Hadapi Imbas Corona, Sektor UMKM Harus Didukung Pemerintah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Menghadapi imbas penyebaran virus corona, terkait sektor ekonomi, pemerintah harus mampu memberikan dukungan terhadap pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

“Sektor UMKM ini harus menjadi tulang punggung pemerintah, dalam menghadapi imbas corona di sektor ekonomi. Terbukti mereka ini, mampu bertahan saat krisis moneter menghantam Indonesia. Situasi yang dihadapi saat ini, mungkin sedikit berbeda namun juga tidak terlalu jauh,” papar guru besar ekonomi Undip, Prof. M. Nasir di Semarang, Selasa (24/3/2020).

Pemberian stimulus pada UMKM diharapkan mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan. “Mereka ini rata-rata menggunakan bahan baku dalam negeri, tidak tergantung impor. Sementara industri besar, yang bahannya impor, saat ini menghadapi dilema, karena terimbas dampak virus corona,” tandasnya.

Termasuk sektor pertaian dan perikanan, menjadi dua bidang yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi kerakyatan. Kebijjakan tersebut penting untuk menyelesaikan ekonomi rakyat, semua sektor harus tumbuh. Jika sektor hulu ini sudah tumbuh, baru kemudian meningkat pada sektor industri atau hilirisasi.

“Contoh, jika kita bicara soal pertanian, bagaimana kita bisa suplai kebutuhan sektor ini. Mulai dari pupuk, sistem teknologi panen hingga pengelolaan. Sementara di sektor perikanan, perlu diperhatikan bagaimana sistem tangkap ikan, perkapalan, hingga membangun pasar. Ini harus kita pikirkan dan disiapkan semua, jika kita ingin membangun ekonomi Jawa Tengah,” paparnya lebih lanjut.

Dirinya juga menilai perlu adanya peran serta teknologi modern, dalam mendukung dua sektor tersebut. Selama ini para petani dan nelayan, menemukan kendala yang sama, yakni bagaimana menjaga kualitas produk yang dihasilkan pada saat panen raya.

“Banyak petani yang lost harvest atau kehilangan hasil pada saat panen raya, dikarenakan teknologi yang tidak masuk di dalamnya. Seperti padi, hasil menurun karena kita tidak punya teknologi bagaimana menghasilkan produk yang baik. Misalnya sistem pengeringan yang baik. Selama ini pengeringan padi hanya terbatas dijemur sinar matahari,” terangnya.

Contoh lainnya, pada saat panen tanaman holtikultura, seperti sayuran, cabai dan sejenisnya. Pada saat panen raya, stok melimpah, namun permintaan tetap. Akibatnya harga komoditi terjun bebas, pertumbuhan ekonomi tidak tercapai.

“Untuk mengatasi persoalan ini, butuh peran serta teknologi. Seperti Undip, sudah memiliki penemuan cold storage dengan memanfaatkan teknologi ozon. Dengan teknologi ini, produk holtikultura tersebut dicuci dengan berozon, dan penirisan dengan udara berozon, perlakuan tersebut akan menghilangkan jamur, bakteri, kapang dan pestisida. Hasilnya produk dapat bertahan lama, hingga tiga bulan,” tandasnya.

Teknologi-teknologi seperti ini, menurut mantan Menristekdikti tersebut harus didorong agar life time hasil pertanian bisa lebih panjang. Termasuk juga di bidang perikanan dan kelautan, agar produk olahan yang dihasilkan memiliki nilai ekonomis yang lebih.

“Kalau di Semarang, terkenal dengan ikan mangut. Bagaimana ikan mangut ini bisa diolah, di-packing hingga bisa tahan enam bulan. Jika ini bisa, tentu mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Terutama dari para nelayan hingga sektor industri kecil pendukung,” pungkasnya.

Lihat juga...