Pulang dari Tiongkok, 10 Mahasiswa Probolinggo Negatif Corona
PROBOLINGGO – Sebanyak 10 mahasiswa asal Kabupaten Probolinggo, yang baru pulang dari Tiongkok, dipastikan tidak terjangkit virus corona. Kepastian tersebut diperoleh, setelah menjalani observasi selama tiga hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Waluyo Jati Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
“Pihak rumah sakit memastikan, para mahasiswa itu dalam keadaan sehat dan tidak terindikasi terjangkit Novel Corona Virus (n-CoV),” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, dr Anang Budi Yoelijanto, Senin (3/2/2020).
Menurutnya mahasiswa Probolinggo yang baru datang dari Tiongkok itu langsung mendapatkan pengamatan dan pemantauan pertama di RSUD Waluyo Jati Kraksaan. Namun sebelumnya, mereka telah menjalani sejumlah screening mulai sebelum ke luar dari China, hingga saat tiba di Indonesia.
“Saat ini sudah ada 16 mahasiswa yang tiba di Kabupaten Probolinggo. Dari sini, ada 10 mahasiswa yang sudah diobservasi selama 2 hingga 3 hari, dan selanjutnya mereka kembali ke rumahnya masing-masing karena dinyatakan sehat,” tuturnya.
Progres dari pemerintah daerah, mahasiswa yang sudah kembali ke keluarganya masing-masing tetap akan dimonitor oleh pihak Puskesmas. Apabila di kemudian hari ada sesuatu, maka pihaknya akan mengembalikan ke rumah sakit, untuk dilakukan penanganan lebih lanjut.
Para mahasiswa asal Probolinggo yang studi di Tiongkok bukan berada di Wuhan, tetapi kota lain yang jaraknya hampir mencapai 900 kilometer dari Wuhan. Namun para mahasiswa tetap menjalani sejumlah pemeriksaan yang sangat ketat, dan tidak diizinkan keluar rumah. “Setelah keluar dari Tiongkok, mereka juga menjalani pemeriksaan. Mereka memenuhi prosedur keimigrasian dan kesehatan pelabuhan, mereka mendapatkan kartu kuning kesehatan. Alhamdulillah semuanya sehat,” tandasnya.
Direktur RSUD Waluyo Jati Kraksaan, dr Mansur menyebut, para mahasiswa tersebut ditanya terkait tanda-tanda gejala terjangkit virus corona seperti demam, batuk dan sesak. “Disamping itu juga pemeriksaan fisik berupa tekanan darah, denyut nadi dan pernapasan, serta suhu tidak boleh lebih dari 38 derajat celcius, selanjutnya ditindaklanjuti dengan foto rontgen, namun hasil pemeriksaan seluruh mahasiswa tidak ada tanda-tanda dari virus corona tersebut,” ujarnya.
Kendati demikian, para mahasiswa tersebut tetap menjadi orang dalam pemantauan. Mereka hanya menjalani observasi, dan tidak ada pantangan apapun baik makanan dan minuman. Hanya saja, mereka harus membatasi aktivitasnya, dan disarankan selalu memakai masker sampai masa batas inkubasi selama 14 hari berlalu.
“Sesampainya di rumah, mereka juga tetap harus memakai masker dan membatasi komunikasi dengan keluarga dan masyarakat. Hal itu dilakukan agar tetap sehat karena orang yang sehat tidak akan terserang virus dan kuman,” pungkasnya. (Ant)