Dermaga Apung di Papringan, Dongkrak Wisata Sungai Serayu

Editor: Makmun Hidayat

Wisata Dermaga Apung di Desa Papringan, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Minggu (9/2/2020) mulai banyak dikunjungi wisatawan. -Foto: Hermiana E. Effendi

BANYUMAS — Sungai Serayu yang selama ini identik dengan penambangan pasir liar serta tumpukan sampah, terpatahkan dengan inisiasi Desa Papringan, Kecamatan Banyumas, yang membangun dermaga apung di tepi sungai yang membelah Kabupaten Banyumas tersebut.

Bahkan saat ini warga Banyumas dan sekitarnya, bisa menikmati keindahan pemandangan di sepanjang Sungai Serayu dengan naik perahu. Jika cuaca sedang cerah, pada sore hari kaki Gunung Slamet terlihat jelas dari tempat tersebut.

Kades Papringan, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Atam, Minggu (9/2/2020) di lokasi Dermaga Apung. -Foto: Hermiana E. Effendi

Kepala Desa Papringan, Atam mengatakan, ide awal untuk membangun dermaga apung di tepi Sungai Serayu karena Desa Papringan selalu menjadi star dimulainya agenda tahunan Festival Serayu. Sehingga ia ingin membangun dermaga yang layak.

“Kebetulan kita sudah memiliki wisata batik, sehingga kita padukan dengan wisata air Sungai Serayu,” tuturnya, Minggu (9/2/2020).

Kawasan wisata dermaga apung ini juga dilengkapi dengan beberapa gazebo yang terletak tepat di tepi Sungai Serayu. Menikmati makanan dan kopi di gazebo ini banyak dilakukan wisatawan di sore hari.

Terkait pembangunan wisata air ini, Atam bercerita, dermaga mulai dibangun awal bulan November 2019 dengan menggunakan dana desa sebesar Rp177 juta. Dana tersebut dipergunakan untuk membuat bronjong supaya dinding sungai tidak longsor serta untuk membuat pondasi dermaga dan bagunan lainnya.

Dan tahun 2020 ini, dana desa yang dipergunakan lebih besar, yaitu mencapai Rp800 juta. Antara lain untuk memperpanjang bronjong di sepanjang sungai, membangun taman, gazebo, dermaga dan pengadaan perahu.

“Sekarang wisatawan sudah bisa naik perahu, dengan membayar Rp10.000, mereka akan diajak berlayar sampai di Desa Kalisube, Kecamatan Banyumas, kemudian kembali lagi ke dermaga. Perjalanan kurang-lebih memakan waktu sekitar 30 menit,” terangnya.

Dermaga apung tempat wisatawan bisa naik perahu dan berlayar hingga ke desa tetangga, Minggu (9/2/2020). -Foto: Hermiana E. Effendi

Konsep wisata yang memadukan antara wisata telusur sungai dengan batik ini, kini sudah mulai ramai pengunjung. Atam mengatakan, anak-anak sekolah yang belajar membatik, biasanya juga sekaligus wisata air supaya pengenal Sungai Serayu dari dekat.

Pengelola dermaga apung, Heru menambahkan, pada akhir pekan kunjungan wisatawan mencapai 200 orang lebih. Dan jam padat pengunjung pada sore hari. Untuk menarik pengunjung, beberapa kali juga diadakan hiburang, seperti pertunjukan kenthongan, kuda lumping ataupun sekedar organ tunggal.

“Pengunjung sudah mulai ramai, karena suasananya memang sejuk dan pemandangannya bagus, di sini juga ada taman bermain untuk anak-anak,” tuturnya.

Wisata air yang berada dibangun di tanah bengkok ini, sudah membuat Desa Papringan dikenal lebih luas. Dan bagi Sungai Serayu sendiri, keberadaan wisata ini juga sangat signifikan untuk mengurangi aktivitas penambangan pasir liar.

Namun, wisata inisiasi desa ini masih membutuhkan banyak dukungan dari pemkab setempat. Antara lain kelengkapan alat pengaman bagi wisatawan seperti pelampung. Dan pihak desa juga mempunyai cita-cita untuk membangun wisata bambu, dengan menanam tanaman bambu berbagai jenis di sepanjang Sungai Serayu.

“Desa Papringan, itu artinya pring atau bambu, sehingga kita ingin menanam berbagai macam jenis bambu yang ada di dunia ini,” kata Kades.

Lihat juga...