Tenaga Farmasi di Flores Masih Diisi Tamatan SMF

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Tenaga farmasi yang berhubungan dengan obat-obatan di banyak sarana kesehatan termasuk Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) se-daratan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih diisi oleh tamatan Sekolah Manengah Farmasi. Secara ideal perlu diisi para sarjana farmasi, termasuk di apotek-apotek.

“Kami tahun 2015 mendirikan Akademi Farmasi di Maumere untuk mengisi kekurangan sumber daya di bidang farmasi,” kata Fransiskus Xaverius Lameng, Direktur Akademi Farmasi Santo Fransiskus Xaverius Maumere, Jumat (31/1/2020).

Direktur Akademi Farmasi Santo Fransiskus Xaverius Lameng saat wisuda di aula Sikka Convention Center (SCC) kota Maumere, Jumat (31/1/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Fransiskus menambahkan, untuk wisuda angkatan kedua sebanyak 61 orang dan ada 8 orang lulusan cum laude sementara wisuda angkatan pertama tahun 2019 lalu tidak ada lulusan cum laude.

Bahkan tambah dia, ada seorang wisudawati yang meraih IPK 3,84 dan dengan adanya wisuda hari ini para wisudawan-wisudawati menjadi bagian dari bukti jati diri  sebagai pribadi yang berpendidikan tinggi.

“Junjung tinggi nilai-nilai integritas, intelektual dan kebangsaan.Sebagai generasi milenial, cerdas sesuai peradabannya saja belum cukup. Harus memiliki karakter yang kuat, punya integritas dan unggul sebagai kekuatan diri dan penyeimbang,” pintanya.

Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa selaku Ketua Lembaya Layanan Pendidikan Tinggi wilayah VIII mengatakan, wisuda merupakan tanda atau tonggak awal dari setiap wisudawan dan wisudawati untuk memulai menjalani suatu proses kehidupan dengan tantangan yang lebih dinamis dan kompleks.

Tatkala menjadi mahasiswa di lembaga pendidikan tinggi, kata Astawa, tentu ruang lingkup tantangan yang dihadapi masih relatif terbatas dibandingkan dengan tantangan di lingkungan ranah kehidupan bermasyarakat.

“Setelah diwisuda jangan berhenti belajar dan menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang begitu sangat cepat dan pesat. Di era kekinian setiap insan manusia dituntut kerja keras, kerja cerdas dan kerja iklas agar tetap eksis, mampu bersaing dan menjadi pemenang.,” ucapnya.

Peningkatan kualitas melalui berbagai jalur pendidikan, kata Astawa, tidak akan pemah berakhir sebab dunia terus bergerak dan berubah begitu cepat sehingga siapa yang tidak mampu mengadopsi dan beradaptasi dengan perubahan, maka akan tergilas atau ditinggal oleh perubahan itu.

Penguasaan terhadap  berbagai multi kecakapan di era  masyarakata  ekonomi Asia maupun global menjadi kewajiban bahkan kemutlakan seperti human skill, conseptual skill, management skill dan lainnya.

“Penguasaan terhadap multi kecakapan belum menjamin suatu keberhasilan tetapi paling tidak bisa turut serta menjadi bagian dari ‘permainan’ dalam dinamika pembangunan baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional,” sebutnya.

Lihat juga...