Ekspor Komoditi Perikanan Sumbar Alami Penurunan
Editor: Makmun Hidayat
PADANG — Balai Karantina Ikan dan Pengendali Mutu Perikanan (BKIPM) Padang mencatat terjadi penurunan ekspor perikanan sepanjang tahun 2019. Berdasarkan data yang dihimpun BKIPM Padang, total nilai transaksi keseluruhan ekspor komoditi Sumatera Barat mencapai Rp 34,5 miliar.
Kepala BKIPM Padang, Rudi Barmara, mengatakan, sepanjang tahun 2019 ada sebanyak 597.405 ekor komoditi perikanan hidup dan 175.285 ekor komidi perikanan segar. Dari seluruh komoditi perikanan itu BKIPM mencatat nilainya mencapai Rp 34,5 miliar.
Ia menyebutkan dari total ekspor itu, jika dilihat pada tahun 2018 tersebut dan dibandingkan dengan tahun 2019 mengalami penurunan sekitar 9 persen. Tahun 2018 ada sebanyak 416 kali ekspor, sementara tahun 2019 turun menjadi 381 frekuensi.
“Banyak sebab yang membuat penurunan ekspor perikanan dari Sumatera Barat. Ada tentang penurunan hasil tangkapan nelayan dan naiknya biaya kargo,” katanya, Rabu (15/1/2020).
Menurutnya, sepanjang tahun 2019 itu unit pengolahan ikan kekurangan bahan baku ikan yang akan di ekspor. Ditambah soal biaya kargo yang mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2018, turut menjadi penyebab frekuensi ekspor tahun ini menurun.
“Jadi dua faktor itu yang menyebabkan ekspor komoditas perikanan menurun walaupun hanya sekitar 9 persen di tahun 2019 ini,” jelasnya.
Rudi menyebutkan kendati terjadi penurunan ekspor perikanan, untuk permintaan di dalam negeri malah terjadi peningkatan. Dimana frekuensi pengiriman mengalami kenaikan sebesar 85 persen dari 2018 yang jumlahnya mencapai 3.897, naik menjadi 4.566. Artinya untuk volume keseluruhan ada total 906.270 komoditi komoditi hidup dan 1.553.007 kilogram komoditi segar, dengan total Rp136,5 miliar.
Ia menjelaskan dari total komoditi ekspor itu, komoditi lobster dan ikan hias menjadi komoditi yang terbanyak dikirim ke secara domestik, yakni ke Jakarta, Batam, Denpasar. Terkait lobster, di Sumatera Barat merupakan daerah perairan yang banyak menghasilkan lobster. Dimana lobster
yang dijual itu, merupakan lobster hasil tangkapan nelayan, adanya dari budidaya lobster juga.
“Setahu saya, di Sumatera Barat ada usaha budidaya lobster seperti di Kabupaten Agam dan itu merupakan lobster air tawar,” katanya.
Terkait budidaya lobster, secara terpisah di Sumatera Barat ada warga yang melakukan budidaya lobster, tepatnya di Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Di Agam budidaya lobster air tawar merupakan hal yang baru dilakukan.
Syafrizal pelaku usaha budidaya lobster air tawar di Agam, mengaku bahwa lobster yang dibudidayanya itu merupakan hasil tangkapan nelayan yang ada di kawasan Danau Maninjau.
“Jadi lobster bisa dikatakan hewan baru di Danau Maninjau ini dan bahkan populasi cukup banyak, buktinya banyak nelayan yang berhasil menangkapnya,” katanya ketika dihubungi dari Padang.
Lobster yang dibudidayanya itu, awalnya merupakan lobster yang masih berukuran kecil dari hasil tangkapan nelayan di Danau Maninjau. Dari lobster berukurang kecil yang dibudidaya di dalam kerambah dekat rumah, diberi makan dengan pelet ikan.
“Sudah banyak yang beli ke sini, untuk panennya bisa mencapai 3 kali dalam setahun,” sebutnya.