KONI Sumbar Seleksi Ketat Atlet PON XX Papua
Editor: Koko Triarko
PADANG – Komite Olah Raga Nasional (KONI) Provinsi Sumatra Barat, menegaskan jika pihaknya tidak asal-asalan dalam mengutus atlet untuk berlaga di Pekan Olah Raga Nasional (PON) XX di Papua, pada 20 Oktober – 2 November 2020, mendatang.
Ketua KONI Sumatra Barat, Syaiful, mengatakan, sejauh ini sudah ada sekitar 20 dari berbagai cabang olah raga (cabor) yang telah mendaftarkan atletnya untuk ke PON Papua, yang masuk ke KONI Sumatra Barat. Namun meski ada lebih banyak lagi cabor yang mendaftarkan diri, dipastikan tidak semuanya diberangkatkan ke PON 2020.
KONI Sumbar melakukan seleksi cabor dan atlet yang ketat, karena KONI berprinsip, biarlah minim jumlah atlet yang diikutsertakan, asalkan hasilnya maksimal. Namun, hal tersebut juga terkait tingginya biaya untuk memberangkatkan atlet ke Papua yang mencapai belasan juta rupiah per orang.
“Di PON Papua, ada 37 cabor yang dipertandingkan. Bila semuanya kita ikuti, bakal tidak ada biaya untuk memberangkatkan atletnya. Penerbangan komersil saja bisa Rp16 juta per orang. Jadi, atlet yang bakal diutus KONI Sumatra Barat hanya 12 orang saja,” katanya, ketika ditemui awak media di Padang, Jumat (13/12/2019).
Syaiful menyatakan, bahwa 12 atlet tu merupakan atlet yang telah meraih emas di beberapa kejuaraan dari berbagai cabor. Seperti silat, angkat besi, dan beberapa cabor lainnya. Bahkan, pada PON 2020 Papua, KONI memasukkan atlet peraih emas di Sea Games Filipina yang berasal dari Sumatra Barat.
“Di antara 12 atlet itu juga ada beberapa orang lainnya yang juga peraih prestasi di PON tahun lalu, dan di PON 2020 ini mereka lolos kembali. Nah, merekalah nanti yang bakal kita berangkatkan,” ungkapnya.
Menurutnya, atlet-atlet peraih emas dan perak di berbagi kejuaraan, dipastikan bakal menjadi atlet andalan Sumatra Barat pada PON 2020 Papua. Mengingat tidak semua cabor yang diikuti, KONI Sumatra Barat menargetkan 12 atlet itu nantinya bisa meraih prestasi yang menggembirakan.
“Ya, kita tidak asal-asalan dalam mengutus atlet untuk PON 2020. Mana mungkin atlet yang tidak meraih prestasi kita kirim juga?” tegasnya.
Baginya, soal pekan olah raga itu, bukanlah tentang euforia merayakan PON-nya. Tapi tentang meraih prestasinya, apalagi jika dihitung jarak Padang – Papua sangatlah jauh, dan tentunya butuh biaya yang besar. Karena selain biaya transportasi, juga ada tanggungan makan dan lainnya.
“KONI Sumatra Barat hanya perpanjangan tangan Pemprov Sumatra Barat. KONI tidak punya anggaran, tapi Pemprov Sumatra Barat yang mempunyai anggaran,” ucapnya.
Untuk itu, KONI Sumatra Barat berharap agar ada pengertian untuk cabor yang mungkin nanti tidak bisa dikirim ke PON 2020 Papua. Terkait cabor apa saja yang dipastikan bakal tidak diikutkan, KONI Sumatra Barat masih belum memastikannya.
“Cabor yang kita ikuti nanti yang terukur saja dari atlet yang kita punya. Dengan target emas, jadi memang banyak cabor bakalan tidak kita ikutkan. Bagi saya, yang penting prestasi, bukan ke Papua untuk euforia saja,” tegasnya lagi.
Syaiful juga menyatakan, seleksi yang begitu ketat untuk menentukan atlet ke PON 2020 Papua, juga berdasarkan hasil Pekan Olah Raga Wilayah (Porwil) di Bengkulu, belum lama ini. Hasil tersebut juga menjadi evaluasi bagi KONI Sumatra Barat, untuk meraih prestasi lebih baik lagi di PON 2020 Papua.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sumatra Barat, Nasrul Abit, berharap atlet yang nantinya bakal berlaga di PON Papua bisa meraih prestasi yang maksimal.
“PON tahun lalu, prestasi atlet kita membanggakan, semoga semua atlet yang diutus nantinya meraih emas. Terkait berapa jumlah atlet, saya belum dapat data, karena belum diputuskan oleh KONI Sumatra Barat,” jelasnya.