Hadapi Bencana, Tagana Lamsel: Pelibatan Masyarakat Penting

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Hasran Hadi, Sekretaris Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinas Sosial Lamsel, menyebutkan pelibatan masyarakat sangat penting untuk membentuk Kampung Siaga Bencana (KSB). Terlebih, menjelang musim penghujan dengan potensi bencana banjir, dan tanah longsor.

Berdasarkan data, Hasran Hadi menyebut dari 17 kecamatan, terdapat lebih dari 10 kecamatan dinyatakan rawan bencana. Desa atau kampung rawan bencana (KRB) sudah dipetakan bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial dan sejumlah instansi.

Sejumlah desa menurutnya dibentuk menjadi KSB mulai dari Desa Bandar Agung hingga di Desa Rangai Tritunggal.

Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, berbatasan dengan Kabupaten Lampung Timur, dipetakan rawan banjir dan puting beliung.

Desa Rangai Tritunggal di bagian barat berbatasan dengan kota Bandarlampung, rawan bencana banjir dan gelombang pasang. Selain desa itu, sejak September empat KSB terbentuk di Katibung, Bakauheni, Sidomulyo, dan Ketapang.

Hasran Hadi, Sekretaris Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinas Sosial Kabupaten Lampung Selatan di pantai Kelapa Rapat, Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, Minggu (3/11/2019). -Foto: Ist.

“Semua kampung siaga bencana yang dibentuk melibatkan semua unsur masyarakat, apalagi kesadaran untuk kesiagaan bencana makin meningkat usai bencana alam tsunami Selat Sunda di sepanjang pesisir Lamsel,” ungkap Hasran Hadi, Minggu (3/11/2019).

Penetapan sejumlah KSB di Lamsel, diakuinya menjadi bagian tugas Tagana Lamsel. Sejumlah tugas yang dilakukan di antaranya pelatihan pendirian tenda darurat untuk shelter, pembuatan dapur umum lapangan (Dumlap).

Setiap KSB yang dibentuk akan memiliki sejumlah struktur organisasi, agar saat terjadi bencana sejumlah tugas bisa dikerjakan sesuai peran yang sudah ditugaskan.

Sosialisasi kebencanaan, pelatihan penyelamatan dan membaca tanda peringatan dini kebencanaan, sebutnya, dilatihkan kepada KSB yang baru dibentuk. Meski sebagian KSB sudah dibentuk, namun Hasran Hadi menegaskan pelibatan masyarakat sangat diperlukan.

Pada kegiatan sosialisasi kebencanaan di KSB Khagom Mufakat Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo, ia menekankan kekompakan.

“Desa Suak menjadi salah satu lokasi terdampak tsunami Desember 2018, ini jadi pelajaran agar KSB berfungsi dengan baik,” tuturnya.

Sebagai desa yang ada di dekat pantai berpotensi tsunami, gelombang pasang dan letusan Gunung Anak Krakatau (GAK), pembentukan KSB harus digencarkan.

Bersama tim Tagana Lamsel, ia juga menekankan peran serta masyarakat harus dimulai sejak dini. Pengenalan KSB berbasis masyarakat dilakukan melalui kegiatan Tagana Masuk Sekolah (TMS).

Rangkaian TMS yang digelar oleh Tagana Lamsel menjadi bagian rangkaian penyadartahuan (mitigasi) bencana. Sebab, anak-anak sejak dini harus ditanamkan untuk mengenal potensi bencana alam di sekitarnya, termasuk pengenalan upaya penyelamatan mandiri.

Sejumlah bencana alam yang berpotensi di Lamsel, di antaranya gempa bumi,banjir,gunung meletus dan tsunami.

“Kami selalu menekankan pada pengurus KSB dan siswa sekolah pada kegiatan TMS, jangan pernah tabu membicrakan bencana,” tegasnya.

Pembahasan mengenai kebencaan yang harus diperkenalkan sejak dini menjadi cara meminimalisir jumlah korban. Selain itu, pelibatan masyarakat dan unsur pemerintahan desa sangat diperlukan.

Pada sejumlah KSB yang dibentuk sejumlah desa secara mandiri menyiapkan shelter, gudang logistik, tenda, peralatan masak. Selain itu, infrastruktur jalur evakuasi terus dibenahi.

Pelibatan masyarakat dalam KSB sekaligus melatih kepekaan dan kepedulian. Pada sejumlah peristiwa bencana alam tim Tagana kerap harus melibatkan masyarakat untuk terlibat dalam dapur umum.

Sejumlah masyarakat yang tinggal di kawasan tidak rawan bencana bisa terlibat aktif dalam tugas tugas meringankan pekerjaan para relawan.

“Kaum wanita, laki laki dalam kondisi kebencanaan harus bisa saling melengkapi, agar posko siaga bencana dapat berjalan dengan baik,” tutur Hasran Hadi.

Pada sosialisasi kebencaanaan bersama BPBD Lamsel, KSB Ragom Helau, Desa Suak, sejumlah pelatihan kembali dimantapkan. Menggunakan lokasi pantai Kelapa Rapat yang pernah diterjang tsunami, simulasi dilakukan agar personel KSB bisa mengambil keputusan cepat. Di antaranya pemilihan lokasi shelter pengungsian, penyiapan dapur umum dan fasilitas lain.

Kepada masyarakat, Tagana Lamsel juga menekankan peranan setiap anggota KSB sesuai keahlian. Bagi sejumlah ibu rumah tangga, akan efektif ditempatkan di dapur umum, kaum laki-laki sebagai penyedia shelter dan tugas lain. Penyiapan KSB yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat, akan makin meringankan tugas dan meminimalisir jatuhnya korban saat terjadi bencana alam.

Lihat juga...