TNKS Pantau Harimau Sumatra dengan Kamera Tersembunyi

Editor: Koko Triarko

PESISIR SELATAN – Balai Besar (BB) Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), melakukan pemantauan keberadaan harimau Sumatra, dengan cara memasang kamera track atau kamera tersembunyi, untuk memastikan keberadaan hewan yang dilindungi itu masih aman dan terjaga di habitatnya.

Kepala Seksi TNKS Wilayah III Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, Sahyudin, mengatakan, pihaknya bersama BB TNKS memang terus malakukan pemantauan terhadap hewan yang dilindungi itu melalui kamera tersembunyi, sebab habitatnya terancam punah.

Kamera tersembunyi itu tersebar di beberapa titik di kawasan TNKS yang dijadikan sebagai wilayah jelajah harimau, atau di kawasan-kawasan yang dijadikan sebagai lokasi berkumpul atau bermain. Dengan cara yang demikian, dapat melihat aktivitas harimau itu dan memetakan keberadaannya.

“Melalui keberadaan kamera tersembunyi tersebut, kita dapat mengetahui keberadaan satwa yang dilindungi tersebut sudah tidak banyak lagi,” katanya, Selasa (1/10/2019).

Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni/ Foto: M Noli Hendra

Menurutnya, agar keberadaan satwa yang dilindungi itu bisa terus dipertahankan dan tidak punah, dia mengajak semua eleman yang ada di masyarakat untuk sama-sama menunjukkan kepedulianya. Hal ini dilakukan, sebagai upaya memberikan kesedaran kepada masyarakat, jangan ada yang memburu atau malah membunuh harimau.

Setidaknya, dengan bisa bergerak bersama dengan masyarakat, rasa saling menjaga satwa dilindungi tersebut muncul dari naluri masyarakatnya.

“Supaya keberadaan satwa ini bisa dipertahankan dan tidak punah, maka diperlukan dukungan masyarakat, tokoh masyarakat, kelompok pecinta alam, LSM dan para pemanfaat hutan legal untuk ikut menjaga dan melestarikannya. Walau secara struktural yang bertanggung jawab langsung adalah TNKS, dan di luar TNKS tanggung jawab BKSDA,” katanya.

Diakuinya, bahwa berdasarkan pemantauan yang dilakukan, secara kuantitas populasi ‘kucing rimba’ tersebut memang telah mengalami penyusutan.

“Penyebab menyusutnya diduga akibat aktivitas perburuan atau sengaja membunuhnya dan tidak sedikit pula terbunuh tanpa disengaja. Termasuk juga akibat makin terdesaknya wilayah mencari makan,” jelasnya.

Ia menyebutkan, bahwa dari pemantauan lapangan, populasi harimau Sumatra diperkirakan hanya tinggal puluhan pasang saja di Wilayah TNKS.

“Berdasarkan pantauan kamera tersembunyi yang dipasang di beberapa titik di hutan TNKS, diperkirakan kawanan harimau Sumatra hanya sekitar 70an pasang saja,” terangnya.

Diungkapkanya, bahwa pengurangan pupolasi itu diakibatkan oleh beberapa faktor, termasuk karena aksi pembabatan hutan dan illegal logging, yang pada akhirnya membuat kawanannya menjadi terdesak.

Karenanya dengan melibatkan masyarakat, pihaknya juga mensosialisasikan agar jangan ada lagi illegal logging. Karena dampaknya tidak hanya kepada lingkungan, tapi habibat yang hidup di dalam hutan itu turut merasakan dampaknya.

“Jangan salahkan harimaunya masuk ke perkampungan, karena manusia itu sendiri telah merusak rumahnya yang ada di hutan,” tegasnya.

Sebab, perbuatan itu membuat kawanan harimau Sumatra tidak punya ruang yang cukup untuk bisa bertahan hidup sebagaimana mestinya. Pembabatan hutan juga mengakibatkan serangkaian tindakan ancaman lainnya bagi harimau Sumatra.

“Artinya tidak sekadar membabat, namun ada pula kegiatan tambahan. Misalnya, setelah membabat mereka melakukan perburuan. Pembabatan dan perburuan biasanya serangkai. Selain itu, dengan terjadinya pembabatan hutan, dengan sendirinya habitat dan lingkungan harimau Sumatra juga terdesak. Demikian pula dengan sumber makananya juga terancam habis,” tutupnya.

Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, menambahkan, bahwa daerahnya itu memang terbilang cukup luas memiliki kawasan hutan, terutama untuk daerah kawasan arah Timur. Di sana juga merupakan kawasan TNKS, dan bahkan ada juga masyarakat berkebun di sekitar kawasan TNKS.

“Masyarakat di Pesisir Selatan ini banyak berkebun gambir dan sawit, kepada mereka kita sudah sosialisasikan, bahwa jangan membabat hutan untuk membuka lahan, apalagi membakarnya. Jika ada yang nekat, kita tangkap,” ungkapnya.

Ia mengaku tidak mengetahui pasti luas kawasan hutan yang ada  di daerah tersebut. Namun melihat dari berbagai sisi, daerah Pesisir Selatan selain berada di sepanjang pantai, juga memiliki pegunungan dan kawasan hutan yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik.

“Masyarkat di Pesisir Selatan telah tahu kalau saya sudah mengingatkan jangan merusak hutan. Kebakaran lahan yang pernah terjadi akhir-akhir ini adalah hal yang sangat saya sesalkan,” sebutnya.

Lihat juga...