Mentawai Bisa Manfaatkan Alam Sebagai ‘Shelter’

Editor: Koko Triarko

PADANG – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, Pemkab Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat bisa memanfaatkan alam, yakni pegunungan dan pohon yang tinggi sebagai tempat evakuasi.

Sekretaris Utama BNPB, Harmensyah, mengatakan, Mentawai yang merupakan pusat gempa megathurust yang sewaktu-waktu bisa mengancam wilayah Sumatra Barat, perlu menjadi perhatian terkait kondisi penduduk yang ada di daerah kepulauan tersebut. Meski sejauh ini shelter belum dibangun, sebagai langkah evakuasi, Mentawai bisa memanfaatkan pegunungan dan pohon yang tinggi sebagai upaya penyelematan diri, bila terjadi tsunami.

“Selama ini, bukan gempanya yang membuat manusia menjadi korban, tapi reruntuhan bangunannya yang menjadi ancaman. Kalau gempa, bisa untuk keluar dari rumah atau gedung, maka sudah bisa melakukan penyelamatan dini. Begitu juga di Mentawai, bila gempanya begitu kuat dirasakan, segeralah berlari ke tempat lebih tinggi,” ujarnya, di Padang, Selasa (1/10/2019).

Mantan Kalaksa BPBD Sumatra Barat ini juga berpendapat, daerah Mentawai yang memiliki pohon-pohon yang tinggi  serta besar, juga bisa dibangun sejak sekarang tali untuk bisa menaiki pohon sebagai upaya evakuasi. Sedangkan untuk daerah pegunungan, bisa dibuatkan jenjangnya, sehingga lebih mudah untuk menaiki gunung, saat melakukan evakuasi.

Ia menyatakan, jika Pemkab Kepulauan Mentawai meminta untuk pembangunan shelter, BNPB akan berupaya memenuhi permintaan itu, karena shelter adalah tempat yang dinilai lebih efektif untuk tempat evakuasi.

Harmensyah juga menyebutkan, selain perlunya menyiapkan tempat evakuasi, Pemkab Kepulauan Mentawai diminta untuk meningkatkan sosialisasi dan mitigasi bencana khusus bagi masyarakat yang ada di Mentawai. Berada di pusat terjadinya gempa yang potensi yang cukup besar, sudah seharusnya memiliki kesiapsiagaan yang lebih baik.

“Kami di BNPB tentu mengimbau kepada daerah untuk berkomitmen melakukan sosialisasi dan mitigasi bencana kepada masyarakatnya. Karena di Sumatra Barat ini tidak hanya soal bencana gempa dan tsunami yang menjadi ancaman, tapi bencana banjir dan longsor,” tegasnya.

Daerah Sumatra Barat memang tidak bisa dipungkiri menjadi daerah rawan terjadi gempa yang diikuti tsunami. Apalagi, daerah ini berada di patahan megathrust Mentawai yang masih tersimpan energi yang sangat luar biasa pelepasan gempa. Meskipun siklusnya dalam kurun 200-300 tahun.

“Meskipun kita tidak mengetahui kapan terjadi gempa, tetapi gempa itu bisa terjadi kapan saja, maka kita mesti melakukan kesiapsiagaan bencana dari sekarang, agar tidak banyak memakan korban,” ujarnya.

Dikatakannya, setelah gempa pada 2009, perlu ditanamkan dalam diri masyarakat Sumatra Barat tangguh bencana. Tangguh bencana tidak hanya dari tingkat provinsi, tetapi sosialisasinya benar-benar hingga ke masyarakat bawah, yakni keluarga.

“Jika keluarga sudah tangguh akan bencana, sehingga jika suatu waktu terjadi bencana di daerahnya sudah mengetahui struktur penyelamatan dini. Dengan cara ini, dapat meminimalisir jatuhnya korban lebih banyak,” katanya.

Lihat juga...