Ricuh Papua, tak Ada Korban Warga Sumbar

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Situasi di Papua kembali memanas sejak Kamis (29/8) kemarin hingga Jumat (30/8) dini hari tadi, membuat khawatir banyak pihak, termasuk masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) yang memiliki keluarga yang merantau ke Papua.

“Untuk kondisi masyarakat Sumbar yang bermukim di Papua dan Papua Barat hingga saat ini tidak ada yang menjadi korban kericuhan. Baik itu harta maupun nyawa,” ujar Kepala Biro Kerjasama Pembangunan dan Rantau, Setdaprov Sumbar, Luhur Budianda, Jumat (30/8/2019).

Dikatakannya, informasi sementara masyarakat maupun perantau Sumbar yang bermukim di Papua masih dalam kondisi aman, info itu berdasarkan komunikasi dengan perantau Minang yang ada di sana.

“Meskipun informasi sementara masih dalam kondisi aman. Tetapi, status di dua provinsi itu kita minta masyarakat dan perantau Minang untuk tetap waspada. Sebab, untuk berkomunikasi ke sana masih belum lancar karena jaringan telekomunikasi masih belum stabil,” katanya.

Untuk itu, ia meminta masyarakat dan perantau yang ada di Papua untuk saling memantau perkembangan yang terjadi dan terus menjalin komunikasi serta berkoordinasi dengan tokoh dan perantau Minang lainnya yang ada di provinsi tersebut.

“Kita dari Pemprov Sumatera Barat akan terus berkomunikasi terkait situasi masyarakat dan perantau kita yang berada di sana, dan bagi masyarakat yang mempunyai informasi terakhir tentang kondisi masyarakat Sumatera Barat di Papua dan Papua Barat, silakan menginformasikan dan berkoordinasi dengan staf Biro Kerjasama Pembangunan dan Rantau (KPdR) Sdr. Hilma pada kontak 081266003137,” tuturnya.

Lanjutnya lagi, bagi masyarakat Sumatera Barat untuk selalu mendoakan agar tidak terjadi sesuatu apa pun bagi masyarakat dan perantau Minang yang ada di Papua serta mendoakan keadaan disana kembali kondusif.

Ia menjelaskan untuk perantau Minang di Papua berjumlah lebih kurang 3 ribu KK yang berdomisili di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Merauke, Kabupaten Jaya Wijaya, Kabupaten Mappi, Kabupaten Kepulauan Yapen, Kabupaten Nabire dan Kabupaten Timika.

Sedangkan di Papua Barat diperkirakan berjumlah 2 ribu KK yang berdomisili di Kota Manokwari, Kota Sorong, Kabupaten Sorong, Kabupaten Fakfak, Kabupaten Kaimana dan Kabupaten Bintuni.

Sebelumnya, ada demonstrasi dipicu dugaan tindak rasisme kepada mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang beberapa waktu lalu. Sehingga, memicu aksi demontrasi di beberapa titik di Papua, seperti Jayapura, Fakfak, Manokwari, dan Timika.

Tidak hanya aksi demo saja, massa juga membakar kantor Majelis Rakyat Papua, membakar kantor Telkom, Kantor Pos dan sebuah SPBU yang berjajar di samping kantor BTN di Jalan Koti, Jayapura. Tidak hanya itu, para demonstran juga melempari kantor-kantor dan hotel di Jayapura.

Lihat juga...