‘Pharmacogenomic’ Paradigma Baru Sistem Pengobatan

Editor: Koko Triarko

Direktur Pelayanan Medis RS. Yarsi Jakarta, Dr. Andi Erlina, MARS. –Foto: Ranny Supusepa

JAKARTA – Berkembangnya ilmu pengetahuan, mendorong manusia untuk makin memaksimalkan analisa terhadap tubuh manusia untuk kepentingan pengobatan. Salah satunya, analisa fungsi gen serta pemetaan hubungan gen satu dengan yang lainnya, untuk mengenali keadaan patologis seseorang dan reaksinya terhadap rangsang yang diterima. Proses penelitian ini disebut Pharmacogenomic.

Direktur Pelayanan Medis RS. Yarsi Jakarta, Dr. Andi Erlina, MARS., menjelaskan, pharmacogenomic ini merupakan salah satu bagian dari Precision Medicine yang mempelajari tentang genetika dan responsnya terhadap obat.

“Jadi, ini merupakan gabungan dari ilmu farmakologi dengan ilmu genomik. Tujuannya untuk mengembangkan terapi obat yang efektif dan aman, dengan dosis yang disesuaikan dengan genetik masing-masing,” kata Dr. Andi, usai Grand Launching RS Yarsi Jakarta, Rabu (10/7/2018).

Ia menjelaskan, dengan adanya pharmacogenomic, maka kondisi patologis seseorang akan dikenali dan akan mampu menciptakan paradigma baru dalam sistem pengobatan. Yaitu, pengobatan individual.

“Kalau sekarang pemberian obat itu berbasis berat badan. Padahal, efek suatu obat walaupun berat manusianya sama, akan memiliki efek yang berbeda. Ini merupakan celah baru. Dengan mengetahui genetika seseorang, akan ditemukan cara perawatan dan pengobatan yang paling tepat,” urai Dr. Andi.

Penelitian genetika ini dibesarkan oleh para ilmuwan biomolekular yang tergabung dalam Human Genome Project (HGP). Hasil penelitian pertamanya dirilis pada 16 Juni 2000, terkait 100.000 gen manusia yang sudah dapat dikenali.

Penelitian dilanjutkan dengan melakukan analisis fungsi dan pemetaan hubungan satu dengan yang lainnya, serta program analisis keragaman genetik individu yang dinamakan Single Nucleotide Polymorphism (SNP).

Keberhasilan program tersebut akan berdampak sangat besar terhadap kehidupan manusia, bahkan bisa menjadi lebih luas dari perkiraan yang ada pada saat ini. Sebabnya adalah produk dari program tersebut akan menyediakan data lengkap mengenai karakterisik asal manusia yang tersimpan di dalam gen-gen yang telah dipetakan.

Data lengkap gen atau data genomik ini akan membuka tabir mengenai keseluruhan proses biokimiawi yang terjadi pada tubuh manusia yang berpengaruh pada sifat-sifatnya.

“Dengan penelitian ini, nanti akan bisa terlihat bagaimana respons sekelompok individu terhadap obat atau pun dosis yang bagaimana yang cocok bagi individu tertentu,” kata Dr. Andi.

Ilmu pharcogenomic berkembang pesat di tahun-tahun selanjutnya. Sehingga mampu untuk mengidentifikasi sejumlah besar penyakit yang berkaitan dengan kelainan genetika. Dan, bisa juga dipergunakan untuk mengidentifikasikan risiko hadirnya penyakit tertentu berdasarkan pola ekspresi gen, seperti kanker, diabetes maupun kardiovaskular.

“Kalau di luar negeri, pharmacogenomic sudah bukan hal baru. Walaupun di Indonesia ini memang masih ilmu yang baru, tapi kita di RS Yarsi punya ahlinya dan mungkin cuma satu-satunya,” ujarnya.

Pendekatan yang akan dilakukan berdasarkan penelitian ini adalah bagaimana memberikan treatment yang sangat spesifik kepada masing-masing pasien.

“Jadi kita tidak bicara lagi tentang memberikan dosis paracetamol 10 mg per 1 kilogram berat badan. Tapi, akan lebih detil. Pada individu A, mungkin pas dengan 10 mg, pada individu B harus diturunkan. Atau pada individu lainnya harus dinaikkan. Melihat secara spesifik pada gen masing-masing,” papar Dr. Andi.

Dalam aplikasinya, pharmacogenomic akan membutuhkan serangkaian tes dengan menggunakan reagen sebagai alat test. “Sebagian reagen ini sudah tersedia di Indonesia, memang tidak banyak. Karena memang membutuhkan data populasi,” pungkasnya.

Lihat juga...