Kehilangan Barang, Warnai Arus Mudik di Bakauheni

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Dua hari jelang hari raya Idul Fitri kejadian kurang nyaman dialami oleh pemudik dan jurnalis. Salah satu pemudik bernama Supriyanto, warga Perum Regency, Kabupaten Bekasi harus rela kehilangan dompet sang istri di atas kapal ferry rute Merak-Bakauheni.

Pemudik yang akan pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga di Purbolinggo, Lampung Timur tersebut kehilangan dompet beserta isinya milik Sumarni Ningsih, istrinya.

Supriyanto menyebut kronologis kejadian dompet hilang terjadi saat ia bersama keluarganya hendak turun dari kapal. Ia menyebut naik dari demaga 3 Merak dan sandar di dermaga 3 Bakauheni. Meski demikian ia mengaku lupa nama kapal ferry yang dinaikinya setelah ia sadar sang istri kehilangan dompet.

Setelah keluar dari area pelabuhan Bakauheni ia langsung melaporkan kejadian tersebut kepada pihak ASDP Bakauheni.

“Sudah saya laporkan secara lisan namun karena kapal ferry yang saya naiki tidak ingat, membuat petugas kesulitan melacak, laporan lisan juga sudah saya sampaikan kepada pihak kepolisian di Bakauheni,” ungkap Supriyanto saat dikonfirmasi di Bakauheni, Senin (3/6/2019).

Supriyanto menyebut, dompet milik sang istri yang hilang diantaranya berisi KTP, ATM, uang tunai sebesar Rp1 juta dalam pecahan uang kecil baru Rp10.000. Ia mengaku sudah melakukan proses pemblokiran ATM milik sang istri agar tidak disalahgunakan.

Sementara untuk tindakan lebih lanjut ia memutuskan tidak membuat laporan tertulis. Seusai melaporkan kejadian tersebut ia memilih melanjutkan perjalanan mudik ke tempat tujuan.

Selain pemudik yang kehilangan dompet berisi data diri, uang tunai, kejadian tidak nyaman dialami jurnalis peliput arus mudik di Bakauheni.

HP jurnalis bernama Al Muhtarom, raib di ruang tunggu dermaga 2. Ia menyebut peristiwa tersebut terjadi saat ia istirahat bersama rekan jurnalis lain dalam liputan arus mudik lebaran.

Jurnalis salah satu media daring tersebut mengaku kehilangan handphone (HP) merk vivo dengan kisaran harga kurang lebih Rp4 juta.

Al Muhtarom (kanan) melakukan pelacakan telepon seluler yang berdasarkan keterangan saksi sempat dititipkan pada sebuah konter telepon seluler – Foto: Henk Widi

HP tersebut merupakan alat bertugas untuk peliputan. Peristiwa itu diketahui, saat dirinya bangun tidur di ruang tunggu lantai dua, dermaga dua Pelabuhan Bakauheni. Ia menyebut beristirahat di lantai dua ruang tunggu dermaga dua bersama rekan-rekan jurnalis lain. Namun saat ia terbangun HP miliknya raib.

Sementara, saksi mata Setiawan, yang merupakan rekan seprofesinya mengatakan bahwa dirinya sempat melihat dua orang pria di dekat mereka, namun dirinya belum sadar adanya peristiwa tersebut. Ia menduga pria yang duduk di dekat lokasi tersebut mencuri HP dengan memanfaatkan kondisi arus mudik.

“Tadi saya lihat ada dua orang laki-laki, postur badan tinggi. Dia bawa koper, ada di tengah-tengah kami. Terus saya ke bawah mau ke toilet, saya naik lagi sudah geger masalah handphone ilang,” jelasnya.

Bahkan para pewarta pun berusaha melacak keberadaan handphone tersebut dengan menggunakan GPS. Kemudian, Al Muhtarom bersama rekannya melaporkan kehilangan tersebut ke Kepolisan Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Bakauheni, Lampung Selatan dan langsung diterima oleh petugas di Sentra Pelayanan Kepolisian.

Terkait kejadian tersebut hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait, perihal keamanan di area pelabuhan saat arus mudik. Meski sejumlah fasilitas kamera pengawas closed circuit television (cctv) juga sudah dipasang pada sejumlah lokasi, saat kejadian lokasi hilangnya HP milik jurnalis tidak terpantau cctv.

Lihat juga...