Mesin Suling Air Laut di Desa Lamatokan, Mubazir
Editor: Koko Triarko
LEWOLEBA – Pemerintah pusat telah membangun mesin penyuling air laut untuk diproses menjadi air tawar di Desa Desa Lamatokan, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata. Namun, mesin tersebut hanya mampu beroperasi sebulan sejak diresmikan pada sekitar 2014.
“Awalnya warga desa bisa mendapatkan manfaat dari bantuan yang dikatakan berasal dari pemerintah pusat. Namun hanya bisa beroperasi selama sebulan, mesin ini pun tidak bisa dipergunakan,” ujar Stefanus Ola, warga Desa Lamatokan, Minggu (12/5/2019).
Dikatakan Stefanus, pembangunan mesin penyuling air laut tersebut senilai Rp1,2 miliar. Pembangunan rumah untuk mesin serta pengadaan mesin ini dilakukan pada sekitar 2014, dan diketahui juga oleh pemerintah kabupaten Lembata.

“Waktu itu saat peresmiannya, bupati pun datang, namun setelah dipakai sebulan, mesinnya mulai rusak. Kini generatornya sudah diambil oleh pemerintah desa Lamatokan untuk keperluan lainnya daripada mubazir,” ungkapnya.
Stefanus mengatakan, saat awal dirinya mengatakan kepada pelaksana proyek, bahwa kadar garam di perairan teluk Hadakewa sangat tinggi, sehingga perlu diteliti dahulu. Namun, pihak kontraktor mengatakan di daerah lainnya bisa berfungsi dengan baik, dan airnya bisa dikonsumi masyarakat.
“Dalam kenyataannya, memang benar saja mesinnya mengalami kerusakan, karena kadar garam di perairan laut teluk Hadakewa sangat tinggi. Kami sayangkan dana yang begitu besar coba dipergunakan membangun sumur bor dan instalasi pipa air ke rumah warga,” sesalnya.
Selain bantuan mesin penyuling air laut menjadi air tawar, tambah Stefanus, pemerintah juga membantu kelompok masyarakat untuk membuat garam. Alat-alat memasak garam juga disiapkan, namun itu pun mubazir.
“Kalau tidak salah, setiap kelompok mendapatkan bantuan dana sebesar Rp15 juta, selain bantuan peralatan memasak garam. Namun semua kelompok akhirnya tidak berfungsi lagi, bukan saja di desa kami, tapi di desa tetangga juga fasilitas yang diberikan mubazir,” terangnya.
Bosco Ritan, pendamping LSM yang bertugas di Desa Lamatokan mengaku, pihaknya memang sedang berupaya agar kelompok-kelompok perempuan memasak garam dihidupkan kembali.
“Memang sangat disayangkan, bila sarana dan prasarana untuk membuat garam yang telah dibantu hanya dibiarkan saja dan terlantar. Kami sedang berupaya, agar fasilitas yang ada dipergunakan untuk menambah pendapatan masyarakat,” ujarnya.
Untuk itu, kata Bosco, pihaknya sedang melakukan pendampingan kepada kelompok-kelompok yang serius untuk bekerja sebagai pembuat garam konsumsi. Beberapa alat dan fasilitas yang kurang pun akan diadakan, agar produksi garam bisa digiatkan lagi.
“Kami berharap, agar perlengkapan memasak garam bantuan pemerintah tersebut bisa dipergunakan, agar masyarakat bisa menghasilkan garam untuk konsumsi. Dengan begitu, akan memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat,” pungkasnya.