Layani Pemudik, Pengelola Jalan Tol Diminta Siapkan Rest Area
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Hadapi angkutan mudik dan balik lebaran, pengelola jalan tol trans Jawa dan tol trans Sumatera diharapkan siapkan fasilitas memadai.
Demikian dipaparkan Darmawan Prasodjo, Deputi Bidang Pengendalian, Pembangunan, Monitoring dan Evaluasi Program Prioritas Kantor Staf Presiden RI.
Fasilitas rest area disebutnya berfungsi untuk pengendara mengistirahatkan mesin kendaraan, mengisi bahan bakar minyak (BBM) dan menjalankan ibadah pada waktunya.

Darmawan Prasodjo bersama tim Kantor Staf Presiden RI yang melakukan monitoring di sejumlah jalan tol menyebut pada jam tertentu terjadi stagnasi.
Stagnasi pada sejumlah rest area tersebut bahkan bisa terlihat melalui fasilitas Google Maps yang terkoneksi dengan kantor staf presiden. Stagnasi pada sejumlah rest area di jalan tol yang berada di pulau Jawa tersebut perlu ditata ulang dan bisa menjadi contoh di tol Sumatera.
Ia menyebut salah satu tren stagnasi bahkan kemacetan di sejumlah rest area terjadi pada jam istirahat. Ia menyebut stagnasi kerap terjadi menjelang pukul 12.00 WIB serta menjelang waktu berbuka puasa sejak pukul 17.00 WIB.
Sebab pada jam-jam tersebut pengendara melalui jalan tol memakai waktu istirahat, ibadah serta waktu berbuka puasa. Penataan oleh pengelola rest area menurutnya penting dilakukan untuk pengaturan parkir agar tidak terjadi kemacetan.
“Stagnasi di rest area bisa memicu perlambatan laju kendaraan apalagi saat kemacetan sudah mulai terjadi beberapa kilometer sebelum rest area. Ini terjadi pada sejumlah ruas tol Jawa pada arus lebaran tahun lalu dan diharapkan tidak terjadi tahun ini,” terang Darmawan Prasodjo saat meninjau fasilitas jalur mudik di Bakauheni, Senin (13/5/2019).
Salah satu solusi untuk mengatasi kondisi tersebut, Darmawan Prasodjo menyebut perlu perubahan kebiasaan (habit) masyarakat. Sebab masyarakat yang mudik dengan kendaraan kerap menginginkan sejumlah kegiatan dilakukan di rest area secara bersamaan.
Aktivitas makan, istirahat, ibadah dan mengisi bahan bakar. Salah satu alternatif disebutnya bisa ditempuh pemudik dengan membawa bekal makanan dan minuman saat mudik dan balik. Terlebih pada arus balik sebagian sudah tidak menjalankan ibadah puasa sehingga makan bisa dilakukan sambil jalan.
Pada jalan tol trans Sumatera yang sudah dioperasikan dari Bakauheni-Terbanggi Besar (Bakter) ia juga menyarankan hal yang sama. Terlebih di JTTS ruas Bakter, sejumlah rest area masih bersifat temporer.
Keberadaan rest area yang belum memiliki fasilitas memadai seperti sejumlah ruas tol Jawa harus disosialisasikan kepada pemudik. Pemudik diakuinya perlu mendapat informasi cukup bahwa sejumlah rest area bersifat temporer.
“Konsekuensinya pemudik dengan kendaraan harus mengecek kondisi kendaraan, ketersediaan bahan bakar serta fisik prima pengemudi,” ujarnya.
Darmawan Prasodjo juga menyebut pada arus mudik yang masih berbarengan dengan ramadan, puasa masih dijalankan. Oleh karena itu aktivitas berhenti untuk makan dipastikan akan berkurang saat siang hari.
Meski demikian keberadaan rest area temporer di ruas tol Bakter harus disiasati dengan pengisian bahan bakar penuh. Sebelum masuk tol ia bahkan berharap pengemudi melakukan pengisian bahan bakar sekaligus saldo uang elektronik yang cukup.
Selain antisipasi keberadaan rest area di jalan tol, di tol Sumatera sejumlah ruas akan berbayar mulai 17 Mei mendatang. Ruas tol Bakter yang dioperasikan penuh sebatas Bakauheni di Lampung Selatan hingga Terbanggi Besar di Lampung Tengah.
Selebihnya dari Terbanggi Besar hingga Pematang Panggang, Sumatera Selatan masih fungsional. Fungsional tol ruas tersebut efektif dilakukan pada 29 Mei mendatang dan dioperasikan saat siang hari.
“Pengelola jalan tol Sumatera dalam hal ini Hutama Karya tentunya sudah melakukan langkah maksimal dalam persiapan angkutan lebaran,” ujarnya.
Perhatian penting juga diakuinya diberikan pada pemudik dengan kendaraan umum dari Jawa ke Sumatera. Antisipasi ketersediaan moda transportasi terusan dari pelabuhan Bakauheni ke sejumlah kota harus diperhatikan.
Sebab selain melalui jalan tol sejumlah kendaraan masih melintas di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum). Pengguna Jalinsum disebutnya terutama kendaraan roda dua, kondisi jalan dan penerangan membutuhkan kenyamanan. Ia berharap fokus persiapan oleh instansi terkait juga memperhatikan Jalinsum.
“Karena tidak semua pemudik menggunakan mobil sebagian motor, akses Jalinsum juga harus diperhatikan oleh Kemenhub,” paparnya.
Terkait kesiapan rest area di JTTS ruas Bakauheni-Terbanggi Besar, Hanung Hanindito, Kepala Cabang PT. Hutama Karya menyebut menyediakan sebanyak enam titik rest area.

Namun saat arus mudik lebaran tahun ini ia menyebut masih disediakan sebanyak tiga rest area di JTTS ruas Bakauheni-Terbanggi Besar. Tiga rest area tersebut berada di Kilometer 33, Kilometer 87 dan Kilometer 116.
Fasilitas rest area yang disediakan diakuinya tiga titik tersebut masih bersifat temporer. Tiga titik rest area lain di ruas tol Bakter diakuinya sedang dalam tahap pembebasan lahan yang dilakukan dengan pemilik tanah.
Rest area pada ruas tol Bakter sepanjang 140,41 Kilometer disebut Hanung Hanindito dibuat dengan sejumlah kontainer. Meski temporer sejumlah fasilitas tersedia berupa toilet, tempat ibadah, kamar mandi, pedagang makanan dan minuman.
“Kebutuhan pengendara berupa bahan bakar sesuai arahan dari tim staf presiden hari ini sudah kami sediakan berupa stasiun pengisian bahan bakar umum,” cetus Hanung Hanindito.
Hanung Hanindito menambahkan kantong SPBU layanan gerak (mobile storage) menyediakan sejumlah bahan bakar minyak (BBM). Jenis BBM yang disediakan meliputi Pertamax, Pertamax Dex, Solar, Pertalite.
Koordinasi dengan Pertamina untuk penyediaan SPBU temporer tersebut dilakukan mengantisipasi kendaraan kehabisan bahan bakar. Tiga unit rest area yang ada diakuinya dipastikan bisa melayani pengendara asal pulau Jawa dan asal Sumatera saat mudik dan balik lebaran.