Dubes: Produk Otomotif hingga Restoran, Potensial di Vietnam

Editor: Koko Triarko

Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Vietnam, Ibnu Hadi, saat kunjungan kerja ke Pulau Bali, Kamis (30/5/2019). -Foto: Sultan Anshori

BADUNG – Siapa yang tidak mengenal negara Vietnam? Negara yang pernah memiliki sejarah perang dengan negara adidaya Amerika pada 1957 hingga 1975 ini, kini menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang mengalami peningkatan ekonomi sekitar 7 persen.

Dengan posisi seperti itu, Indonesia tersaingi secara pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai 5,1 persen. Namun, beberapa produk Indonesia sangat diminati di negara yang menganut sistem komunis ini.

Duta Besar Indonesia untuk Vietnam, Ibnu Hadi, menjelaskan beberapa produk yang diminati oleh negara Vietnam, misalnya otomotif. Produk otomotif Indonesia yang banyak diekspor ke Vietnam terbesar kedua setelah Thailand.

Selama ini, katanya, Vietnam merupakan salah satu pasar terbesar bagi ekspor mobil Indonesia, khususnya jenis SUV. Pada 2018, ekspor mobil ke Vietnam mencapai 40 ribu unit atau sekitar 20 persen dari total ekspor mobil Indonesia yang sebesar 220 ribu unit.

Selain otomotif, sambungnya, kerja sama bidang ekonomi lainnya juga sangat potensial untuk Indonesia. Karena Vietnam ini merupakan Emerging Country bagi negara luar. Hubungan perdagangannya sangat meningkat.

“Batu bara juga menjadi produk yang paling dicari oleh Vietnam. Karena saat ini, Vietnam banyak membangun PLTU berbahan baku separuh dari batu bara. Indonesia menjadi salah satu negara alternatif sumber impor batu bara selain Australia, Rusia, dan Cina,” kata Ibnu Hadi, saat ditemui di sela kunjungan kerja di Kuta, Bali, Kamis, (30/5/2019).

Menurutnya, produk batu bara Indonesia memiliki kualitas yang bagus. Tak hanya itu, produk minyak sayur dan snack juga menjadi kebutuhan yang semuanya mengandalkan dari Indonesia.

Khusus untuk Bali, pasar yang paling potensial yang bisa dijual di Vietnam adalah bidang restoran, garmen, dan beberapa produk kerajinan. Namun, Ibnu Hadi meminta agar para pelaku usaha lebih jeli untuk bisa bersaing di pasar Vietnam ini.

Karena itu, katanya, hak tersebut menjadi kesempatan bagi para pelaku usaha, Khusus di Bali untuk membuat misi perdagangan yang dikoordinir oleh Kadin Bali, untuk berkunjung ke Ho Cing Min City, sebagai pusat ekonomi Vietnam.

“Apalagi sejak kemarin sudah dibuka jalur penerbangan dari Chi Minh-Denpasar, Bali, maupun sebaliknya oleh salah satu maskapai penerbangan swasta yang berbasis di Vietnam. Mestinya ini yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh kita,” katanya.

Ia mencontohkan, usaha restoran sangat potensi di sana, dan bahan bakunya dari sini (Bali). Kan penerbangannya hanya empat jam perjalanan.

“Namun harus diawali dengan misi dagang itu tadi. Dengan produk yang memiliki kualitas ekspor. Karena pasar Vietnam ini tentu berbeda dengan kualitas ekspor Australia dan Amerika,” imbuh Ibnu Hadi.

Selaku Dubes Indonesia untuk Vietnam, pihaknya mempunyai tanggung jawab untuk memfasilitasi rencana positif ini ke depan, seperti mengatur matting plane dengan beberapa pelaku usaha disana.

“Saya kemarin sudah dihubungi oleh anggota Kadin Bali yang juga pelaku usaha restoran di Bali. Katanya dia tertarik untuk menjajaki bisnis restoran di sana. Menurut saya, ini langkah yang bagus demi membuka kerja sama ekonomi antardua negara. Karena tugas saya ini selain menjalin hubungan bilateral, juga harus menjalin hubungan kerja sama ekonomi,” tandas pria asal Bang Belitung, Kepulauan Riau ini.

Lihat juga...