Ramadan-Lebaran di Sumbar Berdampak Besar pada Inflasi

Ilustrasi - Pasar - Dok CDN

PADANG – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatra Barat, fokus melakukan tiga hal untuk mengendalikan inflasi saat Ramadan, karena meningkatnya permintaan bahan kebutuhan pokok.

“Pertama, yang perlu diperhatikan menjelang Ramadan dan Idul Fitri, yakni ketersediaan pasokan bahan pangan strategis, kelancaran distribusi, dan kenaikan tarif angkutan penumpang,” kata Wakil Ketua TPID Sumbar, Wahyu Purnama, di Padang, Selasa (30/4/2019).

Menurut Kepala BI Perwakilan Sumbar tersebut, perlu upaya meningkatkan sinergi dan koordinasi TPID Provinsi dengan kabupaten dan kota, untuk memastikan kecukupan stok bahan pangan strategis di wilayah Sumatra Barat.

“Ini dapat dilakukan melalui operasi pasar dan pasar murah, serta memastikan kelancaran distribusi bahan pangan strategis dengan OPD terkait dan Satgas Pangan,” ujarnya.

Selain itu, ia menilai perlu mengelola ekspektasi positif masyarakat, melalui komunikasi yang intensif, terkait informasi harga melalui berbagai media dan memberikan imbauan agar lebih bijak mengonsumsi dengan menggandeng ulama.

Ia memaparkan, perkembangan inflasi Sumatra Barat hingga triwulan I tahun 2019 masih berada pada level moderat. Kondisi tersebut tercermin dari realisasi inflasi bulanan pada periode Maret 2019, mencapai 0,30 persen dan secara tahunan mencapai 1,94 persen.

Meski terkendali, namun risiko peningkatan inflasi tetap membayangi Sumatra Barat, terutama Mei dan Juni 2019, seiring dengan meningkatnya permintaan pada saat Ramadan dan Idul Fitri.

Ia menyampaikan berdasarkan pola, tekanan inflasi cenderung meningkat seiring dengan berlangsungnya perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Data historis menunjukkan siklus Ramadan dan Lebaran memberikan dampak yang besar pada inflasi Sumatra Barat selama empat tahun berturut-turut sejak 2015.

Inflasi bulan pertama lebih didorong masa persiapan memasuki puasa dan menjalani puasa, sementara inflasi bulan kedua disebabkan adanya faktor perayaan Lebaran, dan pada bulan ketiga dominan disebabkan tradisi pulang basamo di Sumatra Barat.

Sementara itu, berdasarkan komoditasnya, tekanan inflasi pada saat Ramadan dan Idul Fitri disumbang oleh komoditas bahan pangan strategis berupa beras, cabai merah, bawang merah, telur ayam ras, dan daging ayam ras, serta tiket pesawat udara.

Sementara itu, Gubernur Sumatra Barat, Irwan Prayitno, pada pertemuan tingkat tinggi TPID Sumbar, menyampaikan bahwa inflasi merupakan tanggung jawab bersama, sehingga perlu adanya persamaan persepsi di antara kepala daerah terhadap pengendalian inflasi, sehingga kebijakan yang diambil dapat tepat sasaran.

“TPID dan OPD di Sumatra Barat perlu melakukan berbagai upaya pengendalian, terutama terkait isu ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi komoditas pangan strategis, khususnya beras, bawang merah, cabai merah, telur ayam ras dan daging ayam ras,” katanya.

Gubernur juga meminta daerah melaksanakan operasi pasar dan pasar murah selama Ramadan, dalam rangka stabilisasi dan keterjangkauan harga bahan pangan strategis ke masyarakat. (Ant)

Lihat juga...