Minyak Naik di Perdagangan Asia Terpengaruh Ancaman Sanksi Iran

Ilustrasi: Pemandangan anjungan minyak lepas pantai di Teluk Meksiko (Reuters/Henry Romero)

TOKYO — Harga minyak naik ke tertinggi baru untuk tahun ini di perdagangan Asia pada Selasa pagi, setelah seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan bahwa Washington mempertimbangkan lebih banyak sanksi-sanksi terhadap Iran dan terminal ekspor utama Venezuela menghentikan operasinya.

Harga juga didukung oleh survei Reuters yang menunjukkan pasokan minyak OPEC merosot ke level terendah empat tahun pada Maret, dan data positif dari ekonomi terbesar dunia, Amerika Serikat dan China.

Minyak mentah berjangka Brent naik 26 sen atau 0,4 persen menjadi 69,27 dolar AS per barel pada pukul 00.25 GMT (07.25 WIB) setelah sebelumnya menyentuh 69,29 dolar AS, tingkat tertinggi baru untuk 2019.

Sementara itu, minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI), naik 28 sen atau 0,5 persen menjadi 61,87 dolar AS per barel, sebelumnya mencapai 61,89 dolar AS, juga tertinggi baru untuk 2019. WTI ditutup naik 2,4 persen pada Senin (1/4).

Pemerintah AS sedang mempertimbangkan sanksi-sanksi tambahan terhadap Iran yang akan menargetkan wilayah ekonominya yang belum pernah terkena sebelumnya, kata seorang pejabat senior pemerintahan Trump kepada wartawan, Senin (1/4).

Pejabat itu juga menyatakan bahwa AS mungkin tidak memperpanjang keringanan dari sanksi-sanksi terhadap ekspor minyak Iran ke sekelompok delapan importir yang berakhir pada bulan depan.

“Itu, saya pikir, adalah tujuan kita,” kata pejabat itu.

Terminal ekspor minyak mentah Jose, Venezuela, telah menghentikan operasi karena kurangnya pasokan listrik, kata dua sumber yang mengetahui situasi tersebut, setelah mulai kembali beroperasi pada Jumat (29/3) menyusul pemadaman listrik berkepanjangan.

Pemotongan produksi dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) membantu mendorong pasokan kelompok ke level terendah empat tahun pada Maret, sebuah survei Reuters menemukan.

Eksportir terbesar dunia, Arab Saudi, paling banyak mengirim pengurangan pada pakta pemotongan pasokan kelompok tersebut, sementara produksi Venezuela turun lebih jauh karena sanksi-sanksi AS dan pemadaman listrik sebelumnya.

Pasar juga menguat pada Senin (1/4) setelah angka-angka ekonomi positif dari Amerika Serikat dan China meredakan kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan global. [Ant]

Lihat juga...