Festival Pantai Minangrua, Strategi Pokdarwis Tingkatkan Kunjungan Wisata

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Berbagai upaya dilakukan oleh pengelola objek pariwisata untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.

Salah satu strategi dilakukan oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Minangrua sebagai salah satu pengelola destinasi pariwisata bahari di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel).

Rian Haikal, sekretaris Pokdarwis Minangrua Bahari, menyebut, strategi yang dilakukan dengan menggelar festival pantai Minangrua.

Rian Haikal menyebut, gelaran festival pantai Minangrua dilakukan kali kedua sebagai agenda rutin tahunan. Kegiatan festival pantai Minangrua tersebut dikolaborasikan dengan peresmian taman baca, pameran karya, nonton bareng film dokumenter, live music, mural, grafiti, sablon gratis, perlombaan melukis, bakar ikan serta api unggun.

Kegiatan yang digelar disebutnya sekaligus mendorong pengunjung untuk tertarik mendatangi pantai dengan pemandangan ke Gunung Krakatau itu.

Rian Haikal, Sekretaris Pokdarwis Minang Rua Bahari pengelola pantai Minangrua Bahari, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

Rian Haikal menyebut, usai tsunami melanda destinasi bahari 22 Desember 2018 terjadi penurunan jumlah pengunjung. Berbagai upaya dilakukan melalui penataan objek wisata karena kerusakan sejumlah fasilitas.

Sejumlah fasilitas pariwisata berhubungan dengan atraksi, amenitas dan aksebilitas telah dibenahi. Saung tempat berteduh, warung usaha kuliner, lokasi penangkaran penyu yang ada di pantai Minangrua bahkan mulai diperbaiki.

“Gelaran festival pantai Minangrua merupakan agenda rutin tahunan diisi berbagai kegiatan sekaligus berkolaborasi dengan sejumlah komunitas yang memiliki kepedulian pada objek wisata. Sekaligus bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” papar Rian Haikal saat dikonfirmasi Cendana News di pantai Minangrua, Minggu (28/4/2019).

Gelaran festival pantai Minangrua disebut Rian Haikal sekaligus momen ulang tahun terbentuknya Pokdarwis sebagai pengelola pantai tersebut.

Salah satu konsep kegiatan tersebut menurutnya dilakukan sejak pergantian tahun bertujuan memecah keramaian masyarakat pada satu objek wisata di Lamsel.

Selama ini ia menyebut saat hari libur panjang masyarakat terkonsentrasi di objek wisata tertentu menyebabkan kemacetan.

Melalui kegiatan yang dikemas semenarik mungkin diantaranya festival Minangrua, ia berharap kunjungan wisatawan lebih terpecah. Selain itu ia menyebut kegiatan tersebut diharapkan bisa meningkatkan peran serta masyarakat untuk kegiatan pariwisata.

Selain diisi dengan sejumlah kegiatan melibatkan unsur dari luar daerah, Rian Haikal menyebut masyarakat mulai anak-anak, kaum wanita, pemuda dan orang dewasa dilibatkan.

Bagi kaum wanita Rian Haikal menyebut, gelaran lomba memasak berbasis olahan laut (boga bahari) dikonsep dalam pembuatan tumpeng. Tumpeng berbahan hasil olahan laut diharapkan bisa menjadi daya tarik dalam penyajian kuliner hasil laut di pantai Minangrua.

Bagi anak-anak kecil panitia menggelar perlombaan balap sepeda, menggambar, pidato serta perlombaan edukatif. Bagi pemuda dan orang dewasa yang merupakan nelayan, festival pantai Minang Rua juga akan diisi dengan lomba balap jukung.

“Karena usai tsunami banyak jukung milik nelayan yang rusak maka lomba balap jukung diganti dengan lomba balap kano,” cetus Rian Haikal.

Setelah festival pantai Minangrua mendekati bulan suci Ramadan, Pokdarwis juga akan menggelar sejumlah kegiatan. Berkonsep kegiatan sosial, pantai Minangrua akan menggelar kegiatan bertajuk buka bersama serta Sahur on the Beach.

Kegiatan tersebut selain untuk menghidupkan sektor pariwisata bahari di wilayah pantai juga memberi penghasilan bagi warga.

Selain melakukan beberapa kegiatan pengelola objek pariwisata juga terus melakukan upaya pembersihan kawasan pantai tersebut. Sebab angin dan gelombang membuat sampah menumpuk di pantai.

Festival pantai Minangrua yang melibatkan unsur masyarakat, Pokdarwis juga melibatkan unsur dari komunitas. Komunitas yang dilibatkan diantaranya Pelan Pelan Nusantara, komunitas Desamu Desaku, Komunitas Lingkup Desain serta didukung sejumlah unsur lain.

Muhamad Fath, ketua komunitas Desamu Desaku menyebut partisipasi dilakukan sebagai upaya memajukan desa berbasis pariwisata. Sebelumnya komunitasnya juga telah melakukan kegiatan serupa di wilayah Papua.

Muhamad Fath, ketua komunitas Desamu Desaku – Foto: Henk Widi

Bersama dengan komunitas lain ia menyebut telah melakukan kegiatan untuk membangkitkan sektor pariwisata. Terlebih untuk destinasi pariwisata pantai di Lamsel ia menyebut menjadi korban bencana alam tsunami.

Langkah yang dilakukan disebutnya dengan menggelar aksi penggalangan dana. Penggalangan dana diakuinya bertujuan untuk memulihkan kondisi pada objek wisata yang terkena tsunami.

“Komunitas Desamu Desaku juga memiliki perhatian bagi kegiatan literasi sehingga akan dibuat taman baca di pantai Minangrua,” papar Muhamad Fath.

Kegiatan membantu destinasi pariwisata diakui Muhamad Fath juga dilakukan dengan menjadi pengisi kegiatan live music. Di sela sela kegiatan bersama komunitas lain asal Jakarta ia menyebut ikut membersihkan pantai Minangrua dari sampah.

Selain itu berkolaborasi dengan komunitas Lingkup Desain dari mahasiswa desain komunikasi visual dilakukan proses menghias pantai Minngrua. Proses menghias tersebut melalui kegiatan grafiti, mural serta menciptakan spot foto yang unik.

Muhamad Fath menyebut dengan kehadiran sejumlah komunitas di objek wisata paska tsunami, ia berharap masyarakat bisa bangkit. Sektor pariwisata disebutnya bisa menjadi penunjang peningkatan ekonomi masyarakat.

Oleh karena itu melalui gelaran Festival Pantai Minangrua bisa menjadi daya tarik bagi pengunjung. Sejumlah anggota komunitas disebutnya melakukan proses pengecatan dinding dengan lukisan artistik serta papan yang dilukis.

Selain itu foto-foto menarik di pantai Minangrua dicetak serta dipamerkan kepada pengunjung.

Lihat juga...