Suku Bunga FED Dimungkinkan Naik Sekali Lagi

Ilustrasi - Foto Istimewa

LONDON – Bank sentral Amerika Serikat atau FED, dinilai masih mungkin menaikkan suku bunga. Kebijakan tersebut masih mungkin dilakukan maksimal satu kali lagi di tahun ini.

“Kemungkinan tersebut mengingat kondisi ekonomi Amerika Serikat yang kuat,” kata seorang pejabat Federal Reserve (FED) Senin (25/3/2019). Hanya saja masih ada pertimbangan yang membuat The Fed saat ini bersikap menunggu dan melihat.

Presiden Federal Reserve Philadelphia, Patrick Harker, menyebut, pertumbuhan ekonomi yang kuat dan pandangan positif, masih bisa mempertahankan kenaikan suku bunga di tahun ini dan tahun 2020, menjadi salah satu alasan. Dia juga mengatakan, The Fed tidak akan membuat perubahan drastis dalam waktu dekat, dengan jenis-jenis obligasi yang disimpannya dalam neraca sebesar 4,0 triliun dolar AS.

Rekan-rekan Harker di komite pembuat kebijakan bank sentral pada Rabu (20/3/2019) mengabaikan proyeksi-proyeksi untuk kenaikan suku bunga di tahun ini. Hal itu diambil setelah mengutip tanda-tanda adanya perlambatan ekonomi.

Harker berpartisipasi dalam diskusi kebijakan Fed, tetapi tidak memiliki hak suara sampai tahun depan. Pasar menganggap, kemungkinan langkah Fed selanjutnya sebagai penurunan suku bunga. “Inflasi sedikit lebih rendah, dan kepercayaan bisnis telah menurun,” kata Harker.

The Fed telah sembilan kali menaikan suku bunga sejak 2015. Dari kebijakan tersebut target suku bunga Fed menjadi antara 2,25 hingga 2,5 persen. “Saya terus berada dalam mode menunggu dan melihat. Pandangan saya saat ini adalah, paling banyak, satu kenaikan suku bunga tahun ini, dan satu pada tahun 2020, adalah tepat, dan sikap saya akan dipandu oleh data saat mereka masuk dan peristiwa-peristiwa yang terjadi,” tandasnya.

Namun seiring waktu, Harker mengatakan bank sentral harus berusaha untuk sekali lagi memegang obligasi. Hal itu diyakini akan memiliki efek netral, dan memberikan fleksibilitas bank sentral untuk kembali melakukan pembelian obligasi. Hal itu dilakukan, jika suku bunga mendekati nol dan ekonomi membutuhkan stimulus. Untuk mencapai itu, Harker mengatakan, The Fed harus menghindari upaya memojokkan pasar pada keamanan atau lelang tertentu.

“The Fed dapat memiliki obligasi yang jatuh tempo dengan proporsi yang sama dengan pasar surat utang negara yang lebih luas,” tandasnya.

Bank sentral dapat mendukung kepemilikan obligasi yang jatuh tempo dalam satu tahun atau kurang, guna memberi lebih banyak fleksibilitas pemembelian obligasi jangka panjang, untuk memberikan stimulus. (Ant)

Lihat juga...