Masih Banyak Anak di Sikka Belum Masuk PAUD

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

MAUMERE — Kepala TK Primantari Langir Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka, Ursula Aries Udariyani, S.Pd.AUD menyebutkan, banyak orang tua yang belum menyadari pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini. Hal tersebut terlihat dari jumlah anak yang belum mengenyam PAUD di daerah tersebut masih sangat besar.

Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo. Foto : Ebed de Rosary

“Masih banyak yang beranggapan PAUD hanya sekedar tempat bermain bagi anak-anak,” sebut ,Kamis (14/3/2018).

Dikatakan Yani, sapaannya, banyak orang tua hanya membiarkan anaknya bermain di rumah saja atau mengikuti orang tuanya ke kebun. Alasan utamanya tidak ada yang mengantar, karena orang tua sibuk bekerja di kebun.

“Rata-rata para orang tua mengatakan mereka sibuk bekerja sementara anak tidak ada yang mengantar. Bahkan saat musim tanam dan panen anak-anak kami dibawa orang tua mereka ke kebun,” ungkapnya.

Selain itu, tambah Yani, ada yang beralasan tidak mempunyai uang untuk membayar biaya pendidikan anak.Hal ini terjadi karena rata-rata PAUD merupakan milik desa atau perorangan yang mana gaji guru masih dipungut dari iuran komite.

“Kalau tidak ada intervensi dari pemerintah, baik desa maupun kabupaten untuk membayar gaji guru maka orang tua harus membayar iuran. Bantuan dari dana BOS hanya untuk operasional sekolah saja kalau memang ada,” tuturnya.

Sementara itu, Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo dalam pidato pengantar LKPJ Bupati Sikka akhir tahun anggaran 2018 menyebutkan, Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD dari 55,14 persen pada 2017 menjadi 55,48 persen pada 2018. Angka ini hanya mengalami kenaikan 0,34 persen.

“Untuk APK SD/MI/Paket A/PLK/SLB sebesar 109,41 persen pada 2016, meningkat menjadi 108,53 persen pada 2017. Sementara Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI sebesar 96,30 persen pada 2016 menjadi 97,70 persen pada 2017,” jelasnya.

Selain itu tambah Roby sapaannya, angka melanjutkan ke SMP sebesar 97.25 persen pada tahun 2017. APK SMP/MTS sebesar 76,83 persen pada tahun 2016 menjadi 76,98 persen pada tahun 2017. APM SMP/MTS sebesar 76,98 persen pada tahun 2017 menjadi 78,75 persen pada tahun 2018.

“Perkembangan angka droup out atau putus sekolah di tingkat SD menurun dari 0,76 persen pada 2017 menjadi 0,65 persen pada 2018. Perkembangan angka DO SMP dari 0,31 persen menurun menjadi nol persen di 2018,” jelasnya.

Angka Putus Sekolah SD/MI jelas Roby, sebesar 0,31 persen pada 2016 menjadi 0,65 persen pada 2017. Angka Putus Sekolah SMP/MTs sebesar 0,76 persen pada 2017 menjadi 0,27 persen pada 2018.

“Jumlah tenaga pendidik tersertifikasi sampai dengan tahun 2018 sebanyak 1.250 guru. Juga angka melek huruf sebesar 93,08 persen pada tahun 2017 menjadi 93,13 persen pada tahun 2018,” paparnya.

Lihat juga...