LPPM: Padi Inpago Unsoed 1, Solusi Sawah Minim Air

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

BANYUMAS — Petani di Banyumas yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) seringkali menemui kendala penyediaan air dan pemeliharaan saluran-saluran irigasi bagi kebutuhan pertanian. Terkait hal tersebut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto memberikan solusi dengan pananaman padi Inpago Unsoed 1 yang bisa bertahan pada kondisi minim pasokan air.

Tim LPPM yang diketuai Dr. Asna Mustofa mencoba melakukan pemetaan masalah dan mengupayakan solusinya bersama P3A dan kelompok tani. Salah satunya, masih rendahnya produksi padi, khususnya di lahan-lahan yang mengalami keterbatasan air. LPPM menawarkan solusi dengan penanaman padi toleran kekeringan Inpago Unsoed 1 dengan sistem aerobik, di mana hemat air menjadi ciri utama dari sistem budidaya padi ini.

ʺAkhirnya kita buka dua loksi demplot padi Inpago Unsoed 1, yaitu di Desa Karangsalam, Kecamatan Kedungbanteng dan Desa Lemberang, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas. Kelompok tani dan P3A setempat menjalankan sekolah lapang secara aerobik ini,ʺ terang Asna Mustofa, Senin (4/3/2019).

Lebih lanjut Asna Mustofa menjelaskan, pada sekolah lapang ini petani berlatih menanam padi dengan pengaturan drainase yang memadai, sehingga tidak terlalu banyak menggunakan air. Kelebihan air yang diperoleh dari penghematan sistem aerobik ini diharapkan dapat digunakan bagi yang lahannya berada di bawahnya, sehingga radius jangkauan penyaluran menjadi lebih luas.

ʺSaat ini tanaman padi pada dua demplot tersebut telah masuk fase menjelang panen. Petani telah melihat hasil teknologi yang diterapkan, baik teknologi berupa varietas unggul, teknologi pengelolaan air dan teknologi pengendalian hama tanaman yang dikembangkan. Mereka sangat antusias dengan hasil panen perdana yang sebentar lagi dilakukan,ʺ tuturnya.

Padi Inpago Unsoed 1 ini menghasilkan padi hingga 30 – 40 anakan, panjang mulai yang mencapai lebih dari 30 centimeter serta jumlah gabah pada kisaran 200 – 400 gabah per malai. Hasil padi varietas unggul yang ditanam secara aerobik ini jauh lebih tinggi dibanding varietas dan teknik budidaya yang selama ini diterapkan.

Sementara itu, untuk pengendalian hama dan penyakit padi, pihaknya menggunakan tanaman refugia. Caranya dengan menanamnya di sela-sela tanaman padi. Untuk tanaman refugia ini, petani juga mendapatkan bantuan bibitnya dari tim LPPM Unsoed.

Meski beberapa tanaman padi ada yang roboh tertimpa hujan ataupun angin, namun hal tersebut tidak membuat surut semangat. Mereka telah bertekad akan menanam kembali pada musim tanam selanjutnya karena berkeyakinan bahwa implementasi inovasi teknologi yang dikembangkan oleh LPPM Unsoed ini terbukti dapat menjadi solusi dalam pendayagunaan sumber daya air bagi pertanian.

Lihat juga...