Upaya Pemkot Malang Hadirkan Kampung Heritage Kayutangan
Editor: Satmoko Budi Santoso
MALANG – Pemerintah kota Malang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) terus berupaya menambah kampung-kampung wisata sebagai alternatif wisata di kota Malang. Salah satunya adalah kampung heritage Kayutangan.
Kepala Seksi (Kasi) Pemasaran Pariwisata Disbudpar, Agung Harjaya Buana, menyebutkan, kawasan Kayutangan mempunyai potensi yang cukup besar dan cukup bagus untuk dikembangkan sebagai kampung heritage. Ditambah lagi antusias masyarakat di sana yang pada akhirnya membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
“Alhamdulillah juga bersamaan dengan itu, Bapak Walikota ternyata mempunyai program Malang heritage, dan Malang heritage nanti etalasenya akan ditampilkan di kawasan Kayutangan,” ujarnya. Berarti sekarang, lanjutnya, ada dua hal yang lebih mendorong munculnya Kayutangan sebagai destinasi wisata heritage.
Selain itu sekarang sudah mulai banyak yang datang dan mulai banyak kegiatan di sana. Mulai banyak orang memahami tentang pentingnya kawasan heritage. Ke depan walikota juga punya rencana untuk melakukan revitalisasi kawasan tersebut dengan mengganti aspal yang ada di sana dengan batu alam dan penambahan kursi taman.
Selain itu yang lebih menarik lagi, kemarin ketika melakukan diskusi di Museum Mpu Purwa tentang Trem dan Lori, ternyata di Kayutangan pernah ada jalur trem.
“Mudah-mudah kalau nanti dimunculkan lagi terkait trem di Kayutangan bisa sebagai pengingat kita bahwa 100 tahun yang lalu, Belanda sudah membuat sarana angkutan massal,” terangnya.
Selain itu kampung tematik yang sekarang mulai berkembang adalah kampung Panawijen yang berada di wilayah Polowijen.
“Jadi di Polowijen itu bukan hanya ada kampung budaya Polowijen saja, tetapi juga ada kawasan Panawijen yang berfokus kepada non budaya. Mereka lebih mengembangkan bagaimana keikutsertaan masyarakat dalam menyediakan oleh-oleh melalui usaha kripik. Jadi lebih kepada penguatan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata,” tandasnya.
Sementara itu disampaikan Agung, saat ini kampung tematik yang terdata ada 17 kampung tematik dengan segala macam tingkatannya. Ada yang sudah berkembang dan ada yang masih harus diperhatikan, dan ada yang tertidur.
Menurutnya ciri-ciri kampung tematik yang tertidur adalah mereka sudah mendeklarasikan sebagai kampung wisata, namun ternyata tidak banyak wisatawan yang datang ke sana. Tapi bisa juga dari sisi pengelolaan sudah bagus namun konsistensinya menurun. Artinya ramai di depan tapi akhirnya menjadi sepi lagi.
“Salah satu penyebabnya adalah komitmen pengelola dan kurangnya promosi serta penyadaran kepada masyarakat bahwa sebenarnya masayarakat Malang itu punya potensi, tinggal mari kita angkat kembali,” pungkasnya.