Anak-anak Pengungsi yang Tetap Semangat Kembali Bersekolah

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Sejumlah anak usia sekolah yang kehilangan tempat tinggal masih menetap di sejumlah tenda pengungsian, sebagian di lokasi hunian sementara (Huntara). Meski menetap di tenda-tenda pengungsian sebagian anak usia sekolah masih tetap melakukan aktivitas belajar seperti biasa.

Hasan, salah satu pengungsi di Desa Way Muli Induk menyebut ia masih tinggal di rumah kerabat. Aktivitas sekolah sang anak masih berjalan dengan normal meski ia harus rutin mengantar dan menjemput ke sekolah sang anak yang duduk di bangku kelas satu.

Hasan menyebut ia dan keluarganya sudah tinggal di lokasi pengungsian hampir selama dua bulan usai tsunami melanda kampungnya pada Sabtu 22 Desember 2018 silam.

Semenjak kegiatan belajar mengajar dimulai pada 7 Januari 2019 silam ia menyebut rutin mengantar dan menjemput sang anak bersekolah di SDN 1 Way Muli. Aktivitas tersebut diakuinya dilakukan bergantian dengan sang istri yang kerap membantu memasak di dapur umum.

Hasan,salah satu orangtua siswa SDN 1 Way Muli,Kecamatan Rajabasa,Lampung Selatan mengantar anaknya yang duduk di bangku kelas satu yang berjarak ratusan meter dari lokasi pengungsian. – Foto: Henk Widi

Meski tinggal di pengungsian, sejumlah anak usia sekolah disebut Hasan masih memiliki semangat belajar tinggi. Hasan menyebut meski belum memiliki rumah karena lokasi tempat tinggalnya hancur total, ia berharap bisa kembali memiliki tempat tinggal.

Sementara waktu ia juga akan tinggal di huntara yang dibangun pemerintah di Desa Way Muli Timur. Kebutuhan peralatan sekolah berupa seragam, alat tulis disebutnya sudah diperoleh sang anak dari sejumlah relawan.

“Kebutuhan untuk aktivitas sekolah bagi anak saya sudah terpenuhi dan karena sekolah tidak mengalami kerusakan akibat terjangan tsunami kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dengan normal,” terang Hasan salah satu orangtua siswa di Desa Way Muli Induk saat ditemui Cendana News, Kamis (21/2/2019)

Selain Hasan yang memiliki anak usia sekolah dasar, salah satu orangtua bernama Usmiati mengaku ia masih tinggal di pengungsian bersama sang anak. Sementara waktu sang suami bernama Lukman bekerja di pulau Jawa Usmiati mengaku aktivitas belajar anaknya yang duduk di bangku kelas VII SMPN 1 Rajabasa di Desa Kunjir masih berjalan dengan normal.

Usmiati menyebut selama satu bulan terakhir ia tinggal di tenda pengungsian terkadang tinggal di rumah kerabat terutama saat tenda pengungsian bocor akibat hujan.

Usmiati bahkan menyebut tetap tinggal di tenda pengungsian terutama pada siang hari. Setelah huntara selesai dibangun di posko pengungsi Desa Way Muli Induk ia dan keluarganya akan pindah.

Suasan sekolah di Way Muli – Foto: Henk Widi

Setiap hari sang anak yang bernama Chandra berangkat ke sekolah yang berjarak satu kilometer dengan cara berjalan kaki. Lokasi pengungsian yang berada jauh dari jalan raya membuat Chandra sang anak kerap diberi bekal makanan untuk dimakan di sekolah.

“Kami selama sebulan lebih masih memasak di dapur umum posko pengungsian dengan aktivitas harian keluarga seperti anak sekolah tetap berjalan dengan normal,” terang Usmiati.

Chandra sang anak menyebut dibanding sebelumnya ia dan keluarganya yang tinggal di dekat pantai desa Way Muli Induk,lokasi pengungsian berjarak cukup jauh dari sekolah. Sebagian siswa yang memiliki kendaraan roda dua kerap diantar ke sekolah oleh orangtua.

Meski demikian Chandra menyebut memilih berjalan kaki bersama kawan kawannya karena orangtuanya tidak memiliki kendaraan roda dua.

Chandra yang harus kehilangan seragam dan buku buku untuk belajar mengaku sudah mendapatkan bantuan dari donatur. Ia menyebut kebutuhan untuk kegiatan sekolah baginya sudah cukup terpenuhi. Kepedulian para rekan sekolah yang tidak terkena bencana alam tsunami juga diakuinya sangat besar.

Meski tinggal di pengungsian ia juga memastikan semangat untuk belajar masih tinggi. Apalagi disebutnya sebentar lagi ia harus menghadapi ujian mid semester.

Haeruddin, Kepala Sekolah SDN 1 Kunjir, Kecamatan Rajabasa – Foto: Henk Widi

Terkait siswa yang menjadi korban tsunami, Haeruddin, Kepala Sekolah SDN 1 Kunjir, Kecamatan Rajabasa mengaku di sekolahnya ada sebanyak 36 siswa. Puluhan siswa tersebut merupakan total dari sebanyak 145 siswa dengan sebanyak 10 guru.

Para siswa terdampak langsung diakuinya sudah memperoleh bantuan berupa peralatan sekolah, santunan berupa uang tunai serta berbagai jenis bantuan lain. Kini aktivitas belajar mengajar setelah hampir dua bulan berlangsung telah berjalan dengan normal.

Kondisi kerusakan sekolah SDN 1 Kunjir bahkan disebutnya sudah diperbaiki meski kegiatan belajar mengajar masih digabung dengan SDN 2 Kunjir. Kerusakan parah pada SDN 2 Kunjir dengan sebanyak 87 siswa dan 11 guru membuat para siswa mendapat jatah belajar pada siang hingga sore hari.

Sebagian siswa disebut Haeruddin masih tinggal di lokasi pengungsian akibat rumah yang ditempati rusak berat dan belum diperbaiki.

“Siswa bersama orangtua yang mengungsi tersebar di sejumlah posko pengungsian dan mereka sudah normal kembali bersekolah,”beber Haeruddin.

Para siswa disebut Haeruddin terutama kelas kecil dari kelas satu hingga kelas dua kerap masih diantar orangtua ke sekolah. Para siswa yang diantar ke sekolah merupakan siswa yang tinggal di pengungsian yang berjarak cukup jauh dengan sekolah. Secara umum ia memastikan kegiatan belajar mengajar di sekolah yang berjarak dua puluh meter dari pantai tersebut berjalan dengan normal.

Pantauan Cendana News sejumlah siswa yang tinggal di pengungsian desa Way Muli Timur sebagian masuk sekolah pada siang hari. Sebagian anak usia sekolah yang mendapat jadwal masuk siang memilih bermain di lokasi pengungsian.

Tenda khusus untuk lokasi bermain anak anak disiapkan di lokasi pengungsian menjadi tempat tim trauma healing dan psikososial dari sejumlah instansi melakukan kegiatan.

Bagi anak-anak di pengungsian sejumlah instansi yang melakukan pendampingan psikososial menggelar kegiatan menggambar serta kegiatan untuk pemulihan trauma anak anak diantaraya dari Palang Merah Indonesia (PMI) dan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinas Sosial Kabupaten Lampung Selatan.

Lihat juga...