Akademisi: Capres Seyogianya Tawarkan Solusi

Ilustrasi Debat Pilpres [Dok ME. Bijo Dirajo]

SEMARANG – Pasangan calon presiden dan wakil presiden (Capres), seyogianya menawarkan solusi dalam debat pemilihan presiden. Dosen Komunikasi Politik STIKOM Semarang, Suryanto, menyebut, hal tersebut bisa dilakukan saat menyampaikan visi, misi, dan program, guna meyakinkan calon pemilih pada Pilpres 2019.

Setiap capres, seharusnya menawarkan skema kebijakan yang konkret. Terutama kebijakan nyata mengatasi persoalan energi, pangan, sumber daya alam, lingkungan hidup, dan infrastruktur, yang menjadi tema debat pada 17 Februari mendatang.

Ke-dua capres diharap, bisa menawarkan skema kebijakan alternatif yang jitu, untuk mengatasi fluktuasi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di masa mendatang. Hal ini di luar skema pemberian subsidi. Terkait dengan tema pangan, pesan akan mengena bila capres menawarkan skema nyata mengatasi masalah ketersediaan pangan, yang sampai saat ini masih banyak impor.

“Debat sejatinya menampilkan pertautan komitmen politik antara pemilih dan pasangan calon presiden/wakil presiden. Namun, pada debat pertama, 17 Januari lalu, menjadi makin jauh dari harapan,” ujarnya, Sabtu (26/1/2019).

Suryanto menilai, pada debat pertama pasangan calon masih berkutat pada masalah yang dangkal dengan gagasan. Penyampaian tidak substansial, mengada-ada, dan superartifisial atau tidak alami. Debat capres, harus diisi dengan hal-hal positif, tidak malah politisasi Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Atau politik olok-olok, yang merupakan bagian dari potret perpecahan bangsa yang lebih besar.

Setiap pasangan calon maupun tim kampanyenya, harus mengembangkan komunikasi politik yang lebih cerdas dan kreatif. “Bukan malah lebih banyak permainan kata-kata, nyinyir, dan berebut ruang publik yang sensasional yang tidak bermanfaat,” pungkas Suryanto. (Ant)

Lihat juga...