Kasus HIV/AIDS di DIY Setiap Tahun Meningkat

Ilustrasi -Dok: CDN

YOGYAKARTA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan, kasus HIV/AIDS di daerah tersebut, secara kumulatif terus mengalami peningkatan. Kondisi tersebut terjadi setiap tahun, sejak ditemukan pertama kali pada 1993 silam.

“Sampai dengan Juni 2018, jumlah kumulatif kasus HIV di DIY mencapai 4.472 kasus dan 1.564 sudah masuk fase AIDS,” ungkap Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinkes DIY, Sektyarini Hestu Lestari, Jumat (30/11/2018).

Dari 4.472 kasus tersebut, pengidap HIV/AIDS di DIY didominasi usia produktif, yaitu mereka direntang usia 20-29 tahun. Jumlahnya yang mencapai 1.402 orang. Kemudian di rentang usia 30-39 tahun ada 1.299 orang, dan direntang usia 40-49 tahun ada 746 orang. Sebaran kasusnya, untuk HIV tertinggi masih di Kota Yogyakarta yang mencapai 1.133 kasus, kemudian di Sleman 1.046 kasus. Adapun AIDS, tertinggi di Kabupaten Sleman mencapai 366 kasus, diikuti Bantul dan Kota Yogyakarta.

Khusus temuan kasus baru HIV/AIDS di DIY, selama 2018 untuk periode Januari-Juni tercatat ada 315 kasus HIV, dan 39 kasus AIDS. Sedangkan di 2017, untuk periode Januari hingga Desember tercatat ada 27 kasus AIDS dan 390 HIV. Dari sisi faktor risiko, yang paling banyak memicu HIV/AIDS di DIY adalah heteroseksual (hubungan seksual dengan lawan jenis), disusul perilaku homoseksual, baru narkotika suntik, dan air susu ibu.

Faktor yang menyebabkan kasus HIV/AIDS di DIY terus meningkat seperti, pergaulan bebas di kalangan usia produktif. Pergaulan tanpa disertai kontrol di usia tersebut, terindikasi kuat memicu penularan HIV/AIDS yang di antaranya melalui hubungan seksual. “Apalagi penularan HIV/AIDS paling dominan memang melalui hubungan seksual, sedangkan penularan melalui darah atau air susu ibu saya kira sangat kecil,” tandasnya.

Namun demikian, Sektyarini menyebut, peningkatan jumlah kasus tersebut menunjukkan, adanya peningkatan kesadaran masyarakat penderita HIV/AIDS, untuk memeriksakan diri ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya. “Sekarang ada kebijakan kalau hamil harus diperiksa HIV, sipilis, dan hepatitis B, sehingga peningkatan jumlah kasus itu juga didapatkan dari hasil pemeriksaan tersebut,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...