Gubernur Provinsi Kalimantan Timur, Isran Noor –Foto: Ferry Cahyanti
BALIKPAPAN – Petani karet diminta untuk tidak menjual hasil produksinya kepada tengkulak atau broker, mengingat harga jual karet petani akan lebih rendah. Hal itu disampaikan Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor, menyikapi harga jual di tingkat petani yang rendah.
Menurut Gubernur, petani harus menjualnya kepada perusahaan industri pengolahan karet yang ada di Samarinda Seberang. Karena perusahaan tersebut merupakan perusahaan patungan, antara anak perusahaan Barito Pasific Group dengan Michelin Group.
“Manajemen perusahaan sudah berjanji kepada saya, antara dua bulan ke depan sudah bisa menerima penjualan dari petani kepada perusahaan, sehingga tak perlu lagi ke tengkulak,” ucapnya Senin (29/10/2018).
Dengan menjual langsung ke perusahaan, lanjut Isran Noor, para petani akan menerima untung harga lebih tinggi daripada ke tengkulak. Upaya yang dilakukan itu, agar petani tidak lagi rugi karena harga karet petani cenderung bertahan.
“Kita lihat harga ban dan produk berbahan karet harganya tetap mahal, sementara harga karet masih bertahan. Harapannya ke depan tidak akan kembali terjadi di Kaltim, khususnya di Samarinda,” terang Isran Noor.
Dia mengatakan, dengan adanya pabrik pengolahan akan mendukung peningkatan harga penjualan produksi pertanian di Kaltim.
“Inilah yang akan kita carikan solusinya. Bagaimana perusahaan pertanian dan perkebunan bisa membangun pabrik pengolahan di daerah, sehingga harga lebih tinggi,” tandasnya.
Sementara itu, luas area perkebunan karet di Kota Balikpapan seluas 4.496,5 hektare, dengan produksi 6.823 ton lump per tahun.
Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Balikpapan, Yosmianto, mengungkapkan mekanisme hasil dari produksi karet dari petani di Balikpapan dijual ke pabrik karet yang ada di Banjarmasin dan Palaran, Samarinda.
“Petani langsung menjualnya ke pabrik, dan ada juga dijual ke pengepul atau tengkulak, setelah petani atau pekerja melakukan penyadapan,” tukasnya.
Disebutkannya, harga karet sejak 4 tahun terakhir anjlok, yaitu senilai Rp6-7 ribu per kilogram. Kalau dulu bisa sampai Rp15 ribu per kilogramnya.
“Tanaman yang produksi (TM) 2.574,5 hektare, dan lima tahun terakhir produksinya mencapai 35.177 ton lump. Rata-rata produksi per hektare mencapai 1.743 kilogram, dan petani yang ada dari swadaya atau perkebunan rakyat sendiri, tapi ada juga yang dari proyek pemerintah bantuan dari APBD I dan II,” tambah Yosmianto.