Pertemuan IGR-4 Bahas Tiga Agenda Utama

Editor: Koko Triarko

Menteri LHK, Siti Nurbaya, Foto: Ist
JAKARTA – Negara-negara di dunia akan berkumpul pada pertemuan internasional, The 4th Intergovermental Review Meeting on the Implementation of the Global Programme of Action for the Protection of the Marine Environment from Land-Based Activities (IGR-4), di Nusa Dua, Bali, pada 31 Oktober hingga 1 November, mendatang.
Siti Nurbaya Bakar, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, menyampaikan, IGR-4 merupakan ajang badan dunia PBB bidang lingkungan atau UNEP, dan akan dihadiri para Menteri Lingkungan Hidup dari berbagai negara dunia. Sekitar 89 delegasi negara, dengan sekitar 400 pejabat pemerintah, dipastikan hadir di Bali mengikuti agenda lima tahunan ini.
Dengan tema “Pollution in Ocean and Land Connection”, Siti yang juga sebagai ketua forum akan memimpin berbagai sidang, untuk menghasilkan berbagai kesepakatan baru antarnegara.
Pada sidang sesi pertama nanti, katanya, akan ada pemilihan ketua dan tiga wakil ketua sesuai prosedur UNEP. Dan, Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah, setelah pertemuan IGR-1 di Montreal, Kanada pada 2001, IGR-2 di Beijing, Cina 2006, dan IGR-3 di Manila, Filipina 2012, dengan hasil berupa Manila Declaration.
Dikatakan Siti, ada tiga agenda utama dalam IGR-4. Pertama, review pelaksanaan Global Programme of Action for the Protection of the Marine Environment from Land-Based Activities (GPA) periode 2012-2017, sebagai mandat Manila Declaration.
Kedua, menyusun kebijakan masa depan GPA periode 2018-2022, dan yang ketiga, program kerja GPA periode 2018-2022 yang dilaksanakan melalui Coordination Office.
“Kita akan buktikan komitmen sekaligus kepemimpinan Indonesia dalam IGR-4 ini, nantinya mampu menghasilkan kesepakatan positif bagi masa depan dunia, terutama mengatasi masalah polusi laut,” ucapnya, Senin (29/10/2018).
Beberapa menteri delegasi IGR-4 saat ini sudah berada di Indonesia, di antaranya Menteri Lingkungan Tuvallu, Mackenzie Kiritome, dan Menteri Lingkungan Hidup Republik Kongo, yang juga menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Arlette Soudan-Nonault.
Menteri Arlette bahkan langsung memanfaatkan waktunya sebelum pembukaan IGR-4, dengan mengunjungi Kalimantan Barat, melihat langsung langkah-langkah nyata perlindungan gambut di Indonesia.
Selain ke Kalbar, Menteri Arlette bersama dengan pejabat Republik Kongo, dan Direktur eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP), Erik Solheim, akan menghadiri soft lounching Pusat Gambut Tropis Internasional di Bogor, Selasa (30/10).
“Ini juga menjadi bukti apresiasi dunia atas berbagai upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam komitmen perubahan iklim, mewujudkan pembangunan inklusif dan berkelanjutan,” jelasnyai.
Hasil-hasil dari kesepakatan IGR-4, sambungnya, akan dituangkan dalam deklarasi Bali, sebagai dukungan nyata perlindungan dan pelestarian lingkungan laut global, terutama dari masalah sampah plastik.
Lihat juga...