Film Dear Nathan Hello Salma, Tentang Cinta dan Kedewasaan
Editor: Mahadeva WS
JAKARTA – Masa sekolah, adalah masa yang paling indah. Demikian banyak orang menyebutnya. Tetapi, masa sekolah juga bisa menjadi kawah candradimuka, masa penggodogan, menuju pematangan karakter seseorang untuk menempuh kehidupan.
Nathan tak lagi bergulat dengan persoalan dirinya sebagaimana pada film sebelumnya. Kini, seperti waktunya bagi Nathan, untuk bisa membuktikan dirinya telah dewasa. Meski, masalah cinta tidak lagi memesona dirinya, Nathan tidak bisa memungkiri, kalau cinta sejatinya adalah Salma. Demikian yang mengemuka dari film Dear Nathan Hello Salma.
Film ini diawali adegan kedekatan Nathan (Jefri Nichol) dengan Salma (Amanda Rawles), yang sedang berbelanja barang kebutuhan kelurga Nathan. Urusan belanja memang urusan perempuan, sehingga Nathan memang perlu ditemani Salma, yang saat ini memiliki hubungan yang dekat. Usai berbelanja, Nathan disindir ayahnya, kalau belanja harus ditemani Salma, yang membuat wajah Nathan memerah.
Dua remaja kalau dimabuk cinta, memang dunia seperti hanya milik berdua. Tidak ada yang lebih indah bagi Nathan dan Salma, selain cinta mereka berdua. Sayangnya, ayah Salma (Gito Gilas), melarang hubungan mereka, dan memilih menjodohkan Salma dengan Ridho. Hubunganya keduanya semakin goyah, ketika Nathan memukul seorang siswa, yang berakibat, munculnya kesalahpahaman antara Nathan dan Salma. Akhirnya Nathan terpaksa pindah sekolah, dan Salma memutuskan hubungannya dengan Nathan.
Keputusan Nathan pindah sekolah, didukung ayahnya (Surya Saputra), yang tampaknya lebih bijak dan selalu mendampingi Nathan, dalam menghadapi masalahnya. Bahkan sang ayah, kadang menyerahkan sepenuhnya penyelesaian pada Nathan, yang dianggapnya sudah dewasa.
Meski demikian, Nathan tetap mengutamakan keluarga yang menjadi muara segala permasalahan hidupnya. Nathan dan Salma, sama-sama berusaha melupakan cinta mereka. Di sekolah baru, Nathan dekat dengan Rebeca (Susan Sameh), siswi bermasalah yang jatuh cinta kepada Nathan. Melihat kebaikannya disalahartikan, Nathan menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud untuk apa-apa, selain dirinya memang tulus ikhlas membantu Rebeca.
Sementara itu, Salma merasa sangat tertekan oleh perbuatan ayahnya, atas kegagalannya masuk ke UI. Karena frustasi, Salma bertemu Rebeca yang membantunya keluar dari masa-masa frustasi. Pertemuannya dengan Rebeca mempertemukan lagi Salma dengan Nathan, cinta yang belum bisa dilupakan.
Film ini, mengangkat masalah remaja dengan gamblang, dan dramatis. Sutradara Indra Gunawan, mampu mengemasnya dengan cukup baik, dan mampu menyelami dunia anak remaja zaman sekarang. Kekuatan film ini ada skenarionya yang digarap dengan baik oleh Bagus Bramanti. Pengalaman menggarap banyak skenario, menjadikan Bagus mampu menguasai materi cerita yang dihadapinya. Meski tampak cerita cinta remaja, tapi Bagus jeli dan bisa menyiasati sajian cerita dari buku berjudul sama karya Erisca Febriani.
Akting Jefri Nichol, terlihat kian matang, dan semakin menunjukkan bakat sebagai pemain watak. Karakter yang dilakoninya sebagai Nathan, memberi peluang besar. Jefri tampak menggunakan peranya sebaik mungkin. Begitu juga dengan Amanda Rawles, yang seperti dipaksa untuk bermain serius, dengan kisah-kisah dramatis yang menguras tenaga dan pikiran. Karakter Salma begitu melekat pada diri Amanda, yang bermain total dan profesional.
Yang patut diapresiasi selanjutnya adalah, akting Susan Sameh, yang tampaknya baru kali ini mendapat peran yang cukup berat. Mulai dari adegan mau bunuh diri, dan kemudian berbalik menjadi aktivis sosial, penolong remaja yang mengalami depresi.
Aktor senior Surya Saputra, yang berperan sebagai bapak bijak, menghadapi Nathan, anaknya, yang berulah terus, dengan kasus-kasus serius, hingga harus pindah sekolah. Dibutuhkan akting yang benar-benar matang dan banyak pengalaman, dan Surya dapat memenuhi kriteria itu dengan cukup. Juga aktor senior Gito Gilas, yang berperan sebagai bapak yang otoriter dan galak. Gito masih canggung, dan masih tampak masih menjaga jarak, serta belum sepenuhnya melebur dalam karakter yang dilakoninya.
Film ini sarat pesan moral, betapa pentingnya arti sebuah keluarga. Antar anggota keluarga dari ayah, ibu hingga anak memang mesti harus sering menjalin komunikasi. Karena segala masalah harus dihadapi bersama, untuk dikemudian didiskusikan dan dipecahkan, serta dicarikan solusi. Keluarga menjadi muara kehidupan.