Festival Bebas Batas, Ajang Karya Seniman Difabel
Editor: Makmun Hidayat
JAKARTA — Festival Bebas Batas digelar di Galeri Nasional Indonesia, 12-29 Oktober 2018. Sebuah festival pertama di Indonesia yang menampilkan karya-karya seni dari para seniman disabilitas atau difabel.
Festival ini digelar untuk melengkapi ajang olahraga Asian Para Games, yang diadakan pada bulan yang sama, yaitu bulan Oktober.
Festival kolaborasi antara Galeri Nasional Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Art Brut Collective, dan British Council Indonesia ini adalah gagasan yang lahir dari pemikiran sekelompok seniman, kurator, dan aktivis. Salah satunya seniman Hana Madness, yang mengunjungi the Unlimited Festival di London pada 2016 dan terinspirasi untuk membuat festival dengan semangat yang sama di Indonesia.
“Festival Bebas Batas ini bebas berkarya tanpa dibatasi oleh keterbatasan karena semua punya potensi yang sama dalam berkarya, “ kata Farhan, penjaga pameran Festival Bebas Batas di Galeri Nasional Indonesia, Gambir, Jakarta, Minggu (21/10/2018).

Farhan membeberkan Festival Bebas Batas digelar dengan tujuan menjadi bagian dari edukasi kepada publik bahwa penyandang disabilitas memiliki peranan yang sama dalam kehidupan bermasyarakat.
“Festival Bebas Batas digelar sekaligus juga untuk memberikan ruang berkarya, serta menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap karya seni para penyandang difabilitas,“ bebernya.
Melalui pameran karya seni yang berkualitas, kata Farhan, Festival Bebas Batas digelar untuk membangun wajah baru dalam menarasikan disabilitas di Indonesia.
“Kita juga ingin meningkatkan kesadaran khalayak masyarakat luas dengan menjembatani interaksi antara pihak difabel dan non-difabel,“ ungkapnya.
Menurut Farhan, pameran ini menampilkan karya-karya seni visual seniman disable dari seluruh Indonesia dan internasional. “Sekitar karya 50 seniman dipamerkan Festival Bebas Batas ini,” terangnya.
Farhan membeberkan pianis andal Ananda Sukarlan tampil sebagai bagian dari penampilan CANdoDANCE. “Ada juga tokoh seni disabilitas di Inggris, Barbara Lisicki, yang merancang penampilan teater baru bersama dengan Teater Tujuh, grup teater tuli pertama di Jakarta,“ bebernya.
Masyarakat sangat antusias menyambut Festival Bebas Batas ini. “Terbukti, dari sehari-hari banyak pengunjung yang datang,” tegasnya.
Farhan berharap Festival Bebas Batas ini dapat digelar rutin setiap tahunnya. “Karena Festival Bebas Batas ini memberi peluang kepada para penyandang difabilitas untuk menunjukkan karya-karyanya, baik seni visual, musik, teater, tari, dan film,” pungkasnya.