Mbah Muh Jualan Es Krim Sembari Pinjamkan Buku Gratis

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Membudayakan kegemaran membaca buku di kalangan anak-anak, terus dilakukan oleh sejumlah pihak di wilayah Lampung, dengan beragam cara. Bahkan, dengan cara unik seperti yang dilakukan oleh Mufrodi, warga Desa Mataram Baru, Kecamatan Mataram Baru, Lampung Timur.
Mufrodi yang kini berusia 68 tahun tersebut, mengaku akrab dipanggil Mbah Muh, sudah berjualan es krim keliling sejak 2007. Beberapa tempat berjualan merupakan sejumlah tempat wisata, di antaranya wisata Braja Selebah, Taman Nasional Way Kambas serta sejumlah tempat wisata di Lampung Timur. Saat berjualan tersebut, Mbah Muh kerap bertemu dengan anak-anak di sekolah yang sebagian tertarik membeli es krim. Semabri berjualan esk krim keliling itu, ia membawa buku-buku bacaan yagng dipinjamkan gratis kepada anak-anak.
Mufrodi atau Mbah Muh, menggelar buku untuk dibaca anak anak saat berkeliling [Foto: Ist/Henk Widi]
“Saat berada di objek wisata, anak-anak tersebut kerap diajak orang tuanya, ada yang membeli es krim, sebagian meski tidak membeli bisa membaca buku, sehingga saya mulai menggelar buku sembari berjualan es krim,” terang Mufrodi atau Mbah Muh, Kamis (20/9/2018).
Mbah Muh mengungkapkan, motivasinya untuk menggelar lapak buku gratis, karena keprihatinannya terhadap kondisi anak-anak zaman sekarang yang lebih sibuk dengan gawai, internetan dan bermain game. Interaksi dengan sesama terbatasi oleh penggunaan gawai. Berbeda dengan saat anak-anak sibuk membaca buku dan bertukar buku. Keceriaan anak-anak saat berinteraksi selama membaca buku, kerap terjadi saat ia menggelar buku bacaan.
Sebagai penjual es krim keliling, Mbah Muh kerap memilih tempat yang teduh di bawa pohon serta tempat mudah untuk duduk. Meski berjualan es krim, ia juga tidak lantas mewajibkan anak untuk membeli es krim, bahkan memilih terlebih dahulu menawarkan buku untuk dibaca.
Setiap berkeliling dengan motor yang dilengkapi dengan box khusus untuk es krim, di bagian bawah juga disediakan kotak khusus untuk menyimpan buku.
“Saya beri tulisan baca buku gratis, agar anak-anak yang tidak ingin membeli es krim masih bisa membaca buku dan berinteraksi dengan kawan kawannya,” beber Mbah Muh.
Mbah Muh menyebut pada tahap awal, ia masih membawa sedikitnya 20 buku bacaan bergambar. Buku-buku bergambar itu sebagian merupakan buku pinjaman.
Buku pinjaman yang disediakannya cukup beragam tema, di antaranya tentang satwa, biologi, buku TK, buku SD dan pengetahuan umum. Berbagai jenis buku tersebut selalu berganti dalam kurun sebulan sekali, dan hanya dibaca saat ia keliling.
Mbah Muh mengatakan, buku-buku tersebut sebagian merupakan buku milik donatur. Sebagian buku juga merupakan sirkulasi dari pegiat literasi lain yang ada di Desa Labuhan Ratu 9, milik Rumah Baca Akar Pelangi yang dikelola oleh Rudi Hartono.
Dukungan dan dorongan dengan memberi pinjaman buku-buku semakin menambah koleksi, meski ia belum menerapkan sistem peminjaman untuk dibawa pulang anak-anak, karena koleksi buku masih terbatas.
“Saya sejak awal berniat membuka taman baca di rumah. Namun, karena tidak ada yang bisa menjaga, maka buku untuk taman baca saya bawa sambil berjualan es krim,” beber Mbah Muh.
Terkait penamaan pustaka keliling berkaitan dengan produsen es krim, Mbah Muh mengaku tidak terlalu mempersoalkan. Namun dengan ciri khas berjualan es krim sembari membawa buku bacaan, nama Mbah Muh semakin dikenal dan menjadi ciri khas dirinya, diantara ratusan penjual es krim di wilayah tersebut.
Selain memiliki profesi sebagai penjual es krim keliling, dia juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai pemandu wisata di sejumlah objek wisata yang ada di Lampung Timur.
“Tujuan utama saya ingin membangun karakter anak-anak dengan membaca, dan ikut mencerdaskan bangsa walau hanya dengan kerja kecil seperti yang saya lakukan di kampung saya sendiri,” tegas Mbah Muh.
Sebagian koleksi buku diakui Mbah Muh, merupakan hasil pembelian dari keuntungan berjualan es krim. Buku-buku juga disebutnya berasal dari kerja sama dengan pegiat literasi lain, salah satunya dukungan dari Armada Pustaka Lampung untuk menambah koleksi.
Ia juga masih membuka kesempatan untuk donatur menyumbangkan buku kepadanya. Sebutan Mbah Muh yang dikenal sebagai penjual es krim juga kini bertambah dengan penjual es krim yang membuka lapak buku.
Keinginan untuk membudayakan literasi, kata Mbah Muh, juga diniati olehnya jika ada dana dan donasi buku akan membuat rak buku di rumah. Meski demikian, kegiatan membawa buku keliling menjadi sebuah kegiatan yang sekaligus menerbarkan budaya membaca bagi anak-anak.
Selain bagi dirinya, anak-anak, sejumlah pedagang jajanan anak-anak saat beristirahat juga kerap membaca buku yang dibawanya sembari menunggu pembeli.
Melalui kegiatan membawa buku di box tempat berjualan es krim, ia berharap kecintaan anak-anak akan buku bisa semakin ditumbuhkan.
Lihat juga...