Indonesia Dorong Pemberdayaan Perempuan Agen Perdamaian
NEW YORK – Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, di New York, Amerika Serikat, menekankan pentingnya upaya memberdayakan perempuan, sebagai agen perdamaian. Hal itu menjadi salah satu upaya memerangi radikalisme.
Hal tersebut disampaikan Menlu Retno, ketika menghadiri pertemuan tingkat menteri Forum Konter-Terorisme Global (GCTF) ke-9, di sela Sidang Majelis Umum ke-73 PBB, di New York, Rabu (26/9/2018) waktu setempat. “Kami menekankan bahwa perempuan bisa menjadi target rekrutmen (teroris), tapi perempuan bisa juga menjadi agen perdamaian,” kata Menlu Retno.
Sebagai gambaran, GCTF merupakan platform multilateral informal yang terdiri dari 30 negara anggota. Forum yang didirikan pada 2011 itu, memiliki fungsi sebagai wadah untuk merespons upaya kerja sama penanggulangan terorisme, dengan melibatkan negara-negara anggotanya.
GCTF memiliki fokus terhadap upaya untuk mengumpulkan sumber daya, keahlian, informasi dan hal-hal yang dianggap krusial, dalam upaya penanggulangan terorisme. Negara-negara anggota menganggap perlu adanya kerja sama internasional, karena ancaman terorisme sifatnya lintas batas dan sudah melibatkan aktor-aktor non negara.
Terorisme zaman sekarang, sudah menggunakan metode radikalisme, yang dari waktu ke waktu berevolusi, dari yang sifatnya konvensional menggunakan senjata dan bom, menjadi menggunakan teknologi informasi. “Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang diminta menjadi anggota. Hal itu menunjukkan bahwa kerja sama terkait konter-terorisme itu melibatkan Indonesia sebagai salah satu negara kunci,” tandas Retno.
Indonesia dianggap memiliki pendekatan yang komprehensif mengedepankan dialog dalam menghadapi ancaman terorisme. “Oleh sebab itu, tadi saya menyampaikan bahwa kalau kita ingin memberantas terorisme maka tidak dapat hanya dilakukan di tingkat pengambil kebijakan tapi harus masuk ke komunitas, harus kerja sama dengan keluarga dan sebagainya,” tambah Menlu.
Retno mengambil contoh, inisiatif Desa Damai yang diprakarsai oleh Wahid Institute. Sebagai upaya yang bertujuan, membentuk sebuah komunitas yang toleran dan damai. Namun di satu sisi lain, memberikan pemberdayaan kepada perempuan dengan cara meningkatkan kemampuan mereka dalam kegiatan ekonomi.
Wahid Foundation menggandeng UN Women, untuk mengembangkan inisiatif Desa Damai yang bertujuan besar pada keterlibatan perempuan, sebagai upaya membangun masyarakat damai dan mandiri. Sementara penyebaran nilai-nilai perdamaian perlu dilakukan melalui penguatan kohesi sosial.
Retno memandang, inisiatif tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan di tingkat global. Menlu juga menyampaikan kepada negara-negara anggota GCTF, bahwa peristiwa teror bom di Surabaya yang terjadi pada Mei lalu, menjadi panggilan dan momentun, untuk semakin meningkatkan upaya menjadikan perempuan sebagai agen perempuan. Tragedi teror bom tersebut melibatkan pelaku yang merupakan satu keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.
Direktur Keamanan Internasional dan Pelucutan Senjata Kementerian Luar Negeri RI, Grata Endah Werdaningtyas mengungkapkan, pertemuan GCTF akan mengadopsi sejumlah dokumen. Salah satunya, deklarasi tingkat menteri yang intinya mendukung kerja sama dengan PBB untuk menanggulangi isu-isu evolusi dari konter terorisme itu sendiri.
Kemudian akan ada juga sejumlah dokumen yang merupakan kompilasi dari hasil pembelajaran atau pengalaman dari semua negara anggota dalam menanggulangi terorisme, keluarga teroris, dan juga deradikalisasi di tatanan lokal. (Ant)