Film ‘Sultan Agung’, Kisah Heroik Raja Jawa Melawan Belanda

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Film berlatar sejarah kembali dirilis. Setelah ‘Sang Pencerah’ (2010), ‘Soekarno: Indonesia Merdeka’ (2013), dan ‘Kartini’ (2017), sutradara Hanung Bramantyo kembali menghadirkan sejarah dalam karya film garapannya, berjudul ‘Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta’. Sebuah film tentang kisah heroik Raja Jawa dalam melawan penjajah.
Film ini diawali dengan adegan pertarungan Rangsang (Marthino Lio) dengan para cantrik padepokan bela diri yang dipimpin Ki Jejer (Deddy Sutomo). Kemampuan bela diri Rangsang begitu sangat tinggi, sehingga tidak ada cantrik yang bisa menandingi. Rangsang pun menjadi bosan, karena tidak ada lagi lawan yang mau bertanding dengan dirinya.
Sampai kemudian, ada orang bertopeng yang tiba-tiba datang dan tampak mampu menandinginya, bahkan mengalahkannya. Rangsang tentu tak terima, karena dikalahkan orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Sayang, setelah mengalahkan Rangsang, orang bertopeng itu langsung menghilang.
Tak lama, identitas orang bertopeng terkuak, yang ternyata Lembayung muda (Putri Marino) yang telah lama menghilang dari kampung. Rangsang tentu saja sangat senang, karena orang yang dicintainya itu kembali. Keduanya memang saling mencintai dan keduanya adalah cantrik andalan dan kesayangan padepokan Ki Jejer.
Belum lama, Rangsang dan Lembayung muda saling melepas kerinduan, tiba-tiba datang utusan dari Keraton Mataram. Rangsang diharapkan segera pulang, karena Panembahan Hanyokrowati, ayahnya, sakit keras. Begitu tahu kalau Rangsang adalah putra Raja Mataram, Lembayung menjadi bingung, karena merasa tidak pantas menjadi kekasih putra raja. Selama ini, Lembayung hanya mengira kalau Rangsang seperti cantrik biasa.
Setelah Panembahan Hanyokrowati, wafat, Raden Mas Rangsang yang masih remaja itu diminta untuk menggantikannya, dan tentu saja tidak mau, karena merasa ada orang yang paling berhak menggantikannya, yakni putra dari Gusti Ratu Tulung Ayu (Meriam Bellina). Sedangkan dirinya hanyalah putra dati Gusti Ratu Banowati (Christine Hakim), istri kedua Panembahan Hanyokrowati.
Sesepuh keraton (Landung Simatupang), membujuk Raden Mas Rangsang, agar mau menjadi Raja Mataram, karena putra dari Gusti Ratu Tulung Ayu, memiliki keterbelakangan mental. Bahkan, Gusti Ratu Tulung Ayu yang menyuruh orang, sehingga membuat Panembahan Hanyokrowati sakit dan sampai meninggal dunia.
Pada akhirnya, Raden Mas Rangsang mau menggantikan Panembahan Hanyokrowati untuk menjadi Raja Mataram, dan diberi gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Sebelum penobatan, Raden Mas Rangsang dinikahkan dengan Ratu Batang (Anindya Putri) dan menjadi permaisuri Sultan Agung. Raden Mas Rangsang memang tak bisa menolak, karena sudah adat kerajaan, kalau orang berdarah biru alias ningrat menikahnya juga dengan orang berdarah biru.
Sebagai Raja Mataram, Sultan Agung bertekad harus menyatukan adipati-adipati di tanah Jawa, yang tercerai-berai oleh politik VOC yang dipimpin Jan Pieterszoon Coen (Hans de Kraker). Di sisi lain, ia harus mengorbankan cinta sejatinya kepada Lembayung, dengan menikahi perempuan ningrat yang bukan pilihannya.
Kemarahan Sultan Agung kepada VOC memuncak, ketika ia mengetahui, bahwa VOC tidak memenuhi perjanjian dagang dengan Mataram, dengan membangun kantor dagang di Batavia.
Ia mengibarkan Perang Batavia, tapi Tumenggung Notoprojo, paman Sultan Agung (Lukman Sardi), tak setuju, karena melawan VOC sama saja bunuh diri, karena kekuatan VOC sangat besar sampai bisa mengalahkan Inggris dan Portugis.
Selama perjuangan melawan penjajah, Sultan Agung juga harus menghadapi berbagai pengkhianatan. Di antaranya, Tumenggung Notoprojo, pamannya sendiri, yang menghalang-halangi pasukan Mataram sampai Batavia. Sebenarnya, niat Tumenggung Notoprojo tidak menginginkan pasukan Mataram mati konyol.
Perang Batavia, yaitu pertempuran pasukan Mataram melawan tentara VOC, tetap berkobar. Pasukan Mataram yang sebagian sudah berlatih menggunakan senjata, mampu melawan tentara VOC.
Begitu heroiknya Raja Jawa mengibarkan semangat Pasukan Mataram, hingga mampu mengalahkan tentara VOC. JP Coen tewas dan benteng VOC pun runtuh.
Perang usai, tanah Jawa, damai. Di akhir hidupnya, Sultan Agung menghidupkan kembali padepokan tempatnya belajar, dan melestarikan tradisi dan karya-karya budaya Mataram.
Film ini dramatis sekali, betapa heroiknya Raja Mataram melawan penjajah. Sutradara Hanung Bramantyo mampu mengemasnya dengan cukup baik. Hanung mampu “menghidupkan” sejarah penuh kegairahan. Sejarah menjadi tidak membosankan. Tentu saja, kisah dalam film ini versi Hanung, yang tidak sepenuhnya sesuai sejarah.
Terutama tentang Jan Pieterszoon Coen, yang menurut sejarah meninggal karena sakit kolera akibat pasukan Mataram sekian lama mengepung benteng VOC, sehingga membuat irigasi benteng menjadi mampet, dan menimbulkan banyak penyakit. Sampai Jan Pieterszoon Coen terkena kolera dan meninggal dunia.
Ada versi lain yang mengatakan, bahwa Jan Pieterszoon Coen meninggal dunia karena ditembak Roro Untari. Sebuah versi sejarah lain yang bagi Hanung terkesan dramatis dan dipakai dalam film ini.
Penulisan skenario digarap Ifan Ismail bersama Bagas Pudjilaksono, dikawal BRA Mooryati Soedibyo, yang punya PH dan menjadi produser film ini.
Sayangnya, ada adegan yang menggunakan CGI terkesan tidak digarap dengan baik. Mestinya, adegan di pantai tidak menggunakan teknologi CGI yang membuat film ini menjadi terkesan kurang maksimal penggarapannya.
Negara Indonesia yang dikenal sebagai negara bahari, semestinya menggarap adegan pantai dengan sebaik mungkin.
Akting Ario Bayu, begitu cemerlang dan sangat menyakinkan sebagai Sultan Agung. Ario memang aktor watak, yang selalu mampu membawakan karakter yang dilakoninya dengan sangat baik.
Begitu juga akting Marthino Lio yang berperan sebagai Raden Mas Rangsang, Sultan Agung muda, yang mampu membawakannya cukup dengan baik. Marthino Lio merupakan aktor pendatang baru yang tampaknya ke depan akan menjadi aktor penuh harapan.
Adinia Wirasti sebagai Lembayung dan Putri Marino sebagai Lembayung muda, keduanya tampil penuh pesona. Sama halnya aktris-aktris seniornya, Christine Hakim sebagai Gusti Ratu Banowati dan Meriam Bellina sebagai Gusti Ratu Tulung Ayu, keduanya mampu berakting sangat  baik. Meriam Bellina sangat pas dengan peran antagonisnya dalam film ini.
Tak lupa kita tentu memberi apresiasi pada aktor Deddy Sutomo (alm), sebagai Ki Jejer. Film ini menjadi bukti kepiawaian aktingnya yang prima.
Menyaksikan film ini, kita terpuaskan dengan adegan pasukan Mataram mampu melawan VOC hingga membuat Jan Pieterszoon Coen meninggal dunia. Film ini memang karya kreatif yang tak sepenuhnya harus sesuai dengan sejarah.
Sebagaimana film-film Hollywood yang pasukan tentara Amerika begitu perkasa melawan siapa pun musuh-musuhnya, bahkan dalam film, negara adi kuasa Amerika membela bumi dari makhluk angkasa yang jahat.
Patut kita apresiasi untuk film ini adalah “menghidupkan” sejarah menjadi pelajaran yang tidak membosankan. Hal itu tentu tertuju pada generasi milenial yang sebagian besar tak mau belajar sejarah, karena pelajaran sejarah di sekolah dianggap membosankan.
Dengan demikian, film tak hanya hiburan semata, tapi bisa menjadi media pembelajaran sejarah yang  menggairahkan.
Lihat juga...