Belajar Berkesenian di Kampung Budaya Polowijen

Editor: Mahadeva WS

MALANG – Kampung Budaya Polowijen, sejak tahun lalu telah menjadi salah satu destinasi wisata baru di kota Malang. Keberadaan beragam situs warisan budaya dan kesenian di kampun tersebut, menjadi potensi yang diangkat dalam kebijakan tersebut.

Penggagas Kampung Budaya Polowijen, Isa Wahyudi menceritakan, sebelum kampung budaya yang berlokasi di Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing terbentuk, masyarakat setempat telah mengawali dengan kegiatan-kegiatan sarasehan, diskusi, studi banding mengenai pembentukan kampung budaya dari berbagai sumber. “Baru setelah itu Kampung Budaya Polowijen secara resmi dibuka sejak tanggal 2 April 2017,” jelasnya, Minggu (19/8/2018).

Nama Kampung Budaya Polowijen, diambil karena di daerah tersebut terdapat beberapa situ budaya, mulai dari makam Mbah Reni, orang pertama pembuat Topeng Malangan. Kemudian ada Sumur Windu, yang konon adalah tempat pemandian Ken Dedes.

Isa Wahyudi (Ki Demang) – Foto Agus Nurchaliq

Rumah-rumah warga di kampung tersebut, juga di desain menggunakan anyaman bambu, untuk menghadirkan kesan kuno khas budaya Jawa. Pria yang akrab disapa Ki Demang ini menyebut, di kampung budaya Polowijen juga sedang dikembangkan kerajinan topeng, terutama topeng Malangan. “Sekarang di Polowijen juga terdapat pasar topeng, yang berfungsi untuk menampung karya teman-teman dari para pengrajin topeng, baik dari wilayah Malang raya maupun luar Malang,” jelasnya.

Di Polowijen, perajin topeng ada empat orang. Selama ini, para perajin  membuat topeng jika ada pesanan. Jika tidak ada pesanan, mereka tidak membuat. Meskipun secara teknis, mereka mampu membuat topeng setiap hari minimal satu topeng. “Untuk itu kami memutuskan untuk menghadirkan pasar topeng di kampung budaya Polowijen, dalam rangka mengakomodir sekaligus mendorong teman-teman pengrajin topeng untuk tetap membuat topeng,” jelasnya.

Saat ini jumlah pengrajin topeng di Malang ada 20 orang. Dan selain terdapat pasar topeng, di Polowjien, setiap akhir pekan, para wisatawan juga akan dihibur dengan berbagai kegiatan kesenian, mulai dari latihan membuat topeng, membuat batik, maupun latihan menari topeng.

Menurut Ki Demang, latihan menari sebenarnya tidak harus dilakukan di panggung yang besar. “Bahkan kita sudah terbiasa menari di depan makam maupun di bawah pohon, dimana hal tersebut sudah menjadi entitas dari sebuah gerakan yang kita bangun. Bahwa menari bukan sesuatu yang sulit, tetapi menari khususnya tari topeng adalah untuk melatih kesabaran,” terangnya.

Untuk mempromosikan kampung budaya Polowijen, Ki Demang bersama masyarakat sekitar telah mengagendakan beberapa kegiatan mulai dari festival dolanan anak, bersih desa, maupun Polowijen jaman biyen.

Lihat juga...