Sistem Hidroponik di Balikpapan Terkendala Benih

Editor: Koko Triarko

BALIKPAPAN – Berawal dari mengisi kekosongan waktu dengan menanam tanaman sayur-mayur metode hidroponik, Bambang Iswahyudi bersama timnya kini memiliki pasar hasil produksi hidroponik.
Bahkan, dari bercocok tanam hidroponik ini, setiap hari ia bisa menyuplai kebutuhan ke beberapa pasar tradisional di Balikpapan.
Budi daya tanaman dengan cara hidroponik sangat ramah lingkungan, sebab tidak perlu herbsida atau pestisida dari bahan kimia. Dengan metode ini, juga tidak perlu terlalu banyak air seperti bercocok tanam dengan media tanah.
“Awalnya, iseng dan belajar bersama teman-teman yang lainnya mengembangkan budi daya hidroponik. Namun, budi daya ini mulai diseriusi sejak 2015, dan akhirnya produknya semakin meningkat,” terang Bambang, saat ditemui di kebun hidroponiknya di Kota Balikpapan, Senin (2/7/2018).
Mungkin untuk sebagian orang, menanam dengan cara hidroponik ini terdengar masih asing. Tetapi saat ini, untuk perkembangan dari metode hidroponik sendiri sudah pesat. Bahkan, di beberapa titik di Kota Balikpapan, mudah ditemui orang yang bercocok tanam dengan cara hidroponik. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak orang bercocok tanam dengan cara konvensional.
Bambang menceritakan, awal bercocok tanam hidroponik hanya 200 lubang pada tahun 2015 kemudian hingga kini produktivitas terus meningkat, mencapai lebih dari enam ribu lubang tanaman. Ada pun jenis sayuran yang ditanam juga beragam, mencapai 20 jenis varian.
“Dari tanaman hijau seperti sawi, kangkung, selada dan lainnya. Produksi meningkat seiring dengan market yang sudah dimiliki  sejak 2016. Harga yang ditawarkan untuk tanaman hidroponik juga berbeda dengan sayuran lainnya. Lebih mahal karena operasional lebih mahal, tetapi kami stabil,” jelas Bambang.
Ia menyebutkan, saat ini rata-rata panen setiap hari mencapai 12 kilogram,  dengan rata-rata harga jual Rp10 ribu per pack. “Market ada yang langsung ke pasar tradisional, dan ada pula yang datang langsung ke kebun hidriponik di tempat kami kembangkan,” sebut pria kelahiran Balikpapan ini.
Kendati produktivitas budi daya hidroponiknya meningkat, pihaknya juga menemukan kendala, yaitu masih kurangnya lahan, dan bibit untuk budi daya yang digunakan 60 persen impor.
“Nah, baru-baru ini ada kebijakan yang agak rumit, jadi kesulitan mencari benih impor yang biasa digunakan. Dan, kemungkinan akan hilang dari peredaran di pasar. Sementara tidak ada solusinya,  paling kita nanti pakai produk lokal yang kualitasnya jauh dari impor,” tandasnya.
Dia berharap, bercocok tanam hidroponik dapat terus dijaga konsistensinya untuk menjaga produktivitas, mengingat market yang dimiliki sudah ada.
“Kendalanya juga kadang kurang konsisten, sehingga berdampak pada produktivitas. Harapannya tetap terjaga bersama tim,” imbuh Bambang.
Lihat juga...