Nitha, Dosen yang Piawai Bermain Teater
Editor: mahadeva WS
LARANTUKA – Pentas Teater Tonu Wujo di Taman Kota Felix Fernandez Larantuka oleh Fanfare St.Caecilia menyisakan rasa penasaran bagi warga Flores Timur. Siapakah sosok pemeran Tonu Wujo dalam legenda masyarakat Flores Timur tersebut banyak menjadi pertanyaan.
Diceritakan, Tonu Wujo adalah sosok perempuan yang merelakan tubunya dicincang agar menjelma menjadi padi. Sementara, kata-kata, gerakan hingga nyanyian rakyat Lamaholot begitu fasih dimainkan dalam pementasan tersebut.
Penampilan Tonu Wujo menghipnotis penonton yang menyaksikannya. “Dulu waktu SD, cita-cita saya menjadi seorang komikus dan saat SMP saya bercita-cita menjadi penulis cerpen. Masuk sekolah SMA saya ingin menjadi waratawan dan di saat kuliah saya berniat menjadi artis panggung,” sebut pemeran Tonu Wujo, Yunitha Devrudyan Doko, Rabu (6/6/2018).
Keinginannya menjadi komikus, karena kesukaan membaca komik. Hal itu membawanya sering mengambar komik. Sementara keinginan menjadi penulis cerpen karena saat di bangku SMP banyak menghasilkan cerpen. “Ingin menjadi wartawan, karena waktu SMA di Kupang, saya termasuk salah satu pelajar yang dijaring oleh Pos Kupang menjadi wartawan pelajar. Kala itu kami diberi kartu wartawan dan bisa melakukan liputan tentang apa saja di kota Kupang dan sekitarnya,” ungkapnya.

Tekuni Teater Sejak Kuliah
Saat kuliah S1 di FKIP jurusan Bahasa Indonesia di Undana Kupang pada 2015, Nitha terlibat di berbagai komunitas teater. Diantaranya Komunitas Gembel Reformasi, Teater Tanya, dan Rumah Puitika. “Pada 2010, saya bersama teman-teman di Komunitas Gembel Reformasi saat lomba yang digelar Dinas Infokom NTT meraih juara pertama dengan membawakan Parodi bertema Anggur Merah,” ungkapnya bangga.
Nitha mengaku terlibat dalam pementasan teatrikal pada peresmian Gong Perdamaian di kota Kupang. Waktu itu, mereka dibimbing dan dilatih oleh seniman yang terkenal di NTT Abdy Keraf.
Usai mengenyam pendidikan Magister Linguistik Umum di Universitas Warmadewa Bali pada 2017, Nitha ditawari Dosen Udayana Bali Prof.Aron Meko Mbete, asal Ende untuk bergabung di IKTL Larantuka. Meski berat meninggalkan sang bunda di Kupang bersama adik bungsu, Nitha akhirnya menerima tawaran tersebut.
“Bila sudah selesai studi magister dan belum dapat kerja, bisa bergabung di IKTL Larantuka. Memang saya berat meninggalkan ibu dan adik bungsu sendirian di Kupang, namun di sisi lain saya juga sementara memutar otak dimana harus bekerja usai tamat kuliah,” tuturnya.
Selain sebagai dosen, Nitha dikenal sangat aktif menghidupkan kegiatan ekstrakurikuler pada bidang seni bersama dua temannya Martinus Irwanto Ishak dan Dominikus Boli Watomakin. Mereka membentuk sebuah komunitas sastra tingkat kampus yang dikenal dengan nama Sleru yang berati sebuah piring atau wadah kecil. Kehadirannya diharpakan menjadi pelengkap.
Bersama dengan 14 anggotanya, kini telah menghasilkan banyak karya yang dipentaskan di tingkat kampus. Diantaranya musikalisasi puisi, dramatisasi puisi, tari kontemporer. Pentas yang dibawakan di momentum wisuda perdana IKTL mendapat sambutan yang luar biasa dari penonton.
Ingin Terus Berkarya
Berawal dari panggung kecil dengan penonton yang terbatas, Nitha mulai dikenal. Rektor IKTL, Vinsensius Lemba memperkenalkan Nitha dengan moderator komunitas Fanfare St. Caesilia Romo Laurensius Riberu yang saat itu sedang mencari fugur seorang perempuan yang bisa berperan sebagai Tonu Wujo.
Perempuan kelahiran Kupang 20 Juni 1993 ini pun bergabung dengan tim yang melakukan persiapan pentas teater. Saat itulah, untuk pertama kali Dia bisa bertemu dengan Zaeni Boli, dan kawan kawan dan juga sang sutradara kawakan, Silvester Petara Hurit.
“Kak Sil (Silvester Petara Hurit) itu seniman hebat yang baru saya temukan. Sistem pelatihannya bagus dimana di awal latihan dia tidak memberi teks. Latihan terus berjalan tanpa teks. Saya ingat betul di beberapa hari awal kami latihan, kami diminta hanya jalan saja, seolah olah kaki tidak menginjak di tanah,” tuturnya.
Latihan yang dilakukan menurut Nitha tidak berlangsung seperti biasa. Baru diakhir latihan mereka diberi teks, syair dan langsung praktek. Dirinya teringat pada satu adegan, Silvester Petara Hurit memutar musik dan langsung memerintahkannya menyanyi dan spontan Dia menyanyi lagu daerah Lamaholot dengan fasih padahal dia bukan orang asli Lamaholot.
“Peran sebagai Tonu Wujo sangat bertolak belakang dengan karakter asli saya yang cerewet. Di bagian ini, Kak Sil sebagai sutradara kami menerapkan strategi puasa bicara dan saya mengikuti apa yang diarahkan dan memang berhasil,” kenangnya.
Di kampus, beberapa hari jelang pementasan, perempuan asli Sabu berusia 26 tahun ini menjalani puasa bicara. Malam hari Dia dengungkan lagu-lagu daerah yang digunakan dalam pementasan dan ini cara yang efektif untuk berlatih sebab latihannya memang berat.
“Untuk mendapatkan hasil yang berkualitas, latihan harus sungguh sungguh. Saya sempat sakit untuk beberapa hari dan sutradara kami menguatkan saya dengan berkata sakit itu adalah pembersihan diri sebelum pentas,” tuturnya.
Benar apa yang dikatakan sang sutradara, sebab sehari jelang pementasan sakit yang fiderita sembuh total hingga aman sampai selesai pementasan. Ada keajaiban yang dirasakannya. Gadis Sabu yang memiliki hobi membaca, menulis, menggambar dan berteater ini ingin terus berkarya di Flotim. Dirinya berpesan kepada anak muda untuk selalu menampilkan karya dalam mendukung perubahan masing-masing sesuai talenta dan bakat yang dimiliki.
Setelah sukses mementaskan Tonu Wujo di Taman Kota Felix Fernandez Larantuka. Tim akan ke Kupang, mengisi acara yang sama di pesta ulang tahun emas Paroki St. Yoseph Naikoten, kemudian mengisi acara di Gereja Asumpta Kupang dan terakhir di Hotel Aston Kupang.
“Jangan takut bermimpi, jangan takut jatuh, beranilah mencoba. Jika hari ini antusias masih kurang dalam dunia seni, kita tidak boleh menyerah. Menyukai seni itu butuh proses. Jika ada panggung kita siap isi dan kalaupun tidak ada panggung, kita siap ciptakan,” pungkasnya.