Kembangkan Kuliner Lokal, Serius buat SOP

Editor: Satmoko

Aulia Abdi - Foto Arief Rahman

BANJARMASIN- Agar usaha kuliner yang dirintis bisa dikembangkan melalui sistem franchise, pengusaha kuliner lokal diharapkan bisa serius membuat standart operating procedure (SOP) pada bisnis mereka.

Menurut salah satu pebisnis kuliner lokal di Banjarmasin yang usahanya sudah  dalam jalur franchise, Aulia Abdi, SOP yang baik akan membuat usaha yang dirintis mudah dikerjasamakan dengan orang lain karena standar kualitas produk maupun jasa sudah sama dengan aslinya.

“Kalau SOP tidak jelas, bagaimana mungkin kita bisa franchise usaha. Bisa saja dengan dipaksakan, namun pasti kualitas produk maupun jasa jadi jauh berbeda dengan aslinya,” katanya, Sabtu (2/6/2018).

Kalau SOP yang baik bisa dibuat dan diterapkan oleh mitra kerja, konsumen tak perlu ragu menggunakan produk atau pun jasa yang dijual oleh mitra franchise di wilayah lain.

“SOP sendiri mencakup bahan yang digunakan hingga bagaimana cara mengolahnya. Kalau perlu buat juga untuk divisi lainnya baik keuangan, SDM sampai pemasarannya. Makin lengkap tentunya akan makin baik,” tegasnya.

Banyaknya pelaku usaha kuliner lokal yang tak bisa mengembangkan usahanya sendiri dengan sistem franchise, memang karena tidak adanya SOP yang dibuat oleh mereka secara baik.

Padahal melihat sisi potensi, banyak kuliner lokal yang sebenarnya bisa dikembangkan ke daerah lain bahkan luar negeri melalui sistem ini.

“Produk kuliner seperti soto ayam, nasi kuning ataupun lontong kan sebenarnya usaha yang punya potensi untuk dikembangkan ke pasar yang lebih luas dengan sistem franchise. Namun karena tidak dicatat dengan baik SOP mengolahnya oleh si pemilik, jangankan untuk berkembang, bertahan pada generasi berikutnya pun sulit,” tuturnya.

Dengan SOP yang baik pada usaha kuliner yang dirintisnya, rumah makan yang dirintisnya sudah berkembang menjadi salah satu franchise kuliner lokal yang mampu membuka banyak cabang, baik di Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru hingga Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

“Kita bahkan sudah menjajaki ingin membuka cabang dengan sistem franchise di daerah Kalteng hingga Kaltim. Ada pun nilai kerja samanya mencapai Rp200 juta dengan target pengembalian modal hanya sekitar 1 tahun,” pungkasnya.

Lihat juga...