Camelia Malik Kagumi Kesederhanaan Pak Harto

Editor: Satmoko

JAKARTA – Camelia Malik termasuk artis senior yang punya kedekatan dengan sosok Pak Harto.

Mia, demikian biasa disapa, punya pandangan tersendiri mengenai Presiden Kedua RI yang baginya sudah jarang ditemui pada karakter presiden zaman sekarang. Hal tersebut dapat Mia jabarkan dengan begitu runut, nyata, dan gamblang.

“Bapak itu pemimpin yang sangat berwibawa, penuh kharisma tapi rendah hati,“ kata Camelia Malik kepada Cendana News, seusai tahlilan dan doa bersama untuk Haul Pak Harto ke-97 di Rumah Cendana Jl. Cendana, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (8/6/2018) malam.

Perempuan kelahiran Jakarta, 22 April 1955 itu sangat mengagumi kesederhanaan Pak Harto.

“Sebagai seorang presiden 32 tahun, kesederhanaannya itu paling menonjol. Sepertinya itu serupa pakaian bapak, melekat, tidak bisa diubah-ubah. Memang beliau anak desa yang sederhana,“ ungkap aktris berdarah Minangkabau dari orangtua Djamaludin Malik dan Farida Al-Hasni yang masih keturunan dari Raja Minangkabau di Tanah Datar, Sumatera Barat ini.

Mia suka memperhatikan presiden dimana-mana fasilitasnya terbaik. Apa saja yang Pak Harto mau pasti bisa, tapi Pak Harto tidak mau melakukannya.

“Dari segi berpakaian bapak yang paling bersahaja. Tidak pakai pakaian berlebihan. Tidak pakai jam tangan yang mahal-mahal,“ beber penyanyi yang terkenal dengan single “Colak-Colek” tahun 1970.

Menurut Mia, Pak Harto adalah seorang pemimpin yang tidak banyak omong.

“Kalau sekarang ada yang bicara kerja, kerja, kerja. Kayaknya kalau Bapak kata-katanya tidak begitu tapi semua ada buktinya. Seperti Repelita, Kelompencapir, Keluarga Berencana,  sekarang tampaknya mulai dipakai lagi. Semua yang baik diteruskan saja tidak apa-apa malah itu lebih baik,“ papar saudara musisi Ahmad Albar ini.

Sosok seperti Pak Harto itu, menurut Mia, jarang, karena di zaman Pak Harto tidak pernah ada konflik yang sampai tidak ada aturannya.

“Sepertinya sudah ada aturan yang membuat pejabat ataupun masyarakat  takut kalau mau melanggar. Itu yang luar biasa dari beliau,“ Mia memuji.

Mia menyampaikan keprihatinan, bahwa rakyat tidak dibikin resah gelisah dalam urusan pangan. Tidak sampai ngeri seperti sekarang yang njomplang. Pada zaman Pak Harto, semua bisa teratasi. Semua bisa terbeli semua.

“Jerit rakyat sekarang sudah di ambang batas yang membahayakan. Cepatlah sadar pejabat atau pemimpin yang memang harus memikirkan rakyat,” ujarnya.

Mia pun bersyukur bisa kenal dengan Pak Harto sampai akhir hayatnya.

Lihat juga...