Tanggul Penangkis Buatan Menjaga Pesisir Rajabasa dari Abrasi
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Hantaman tropis siklon Dahlia pada akhir September 2017, lalu menimbulkan kerusakan di wilayah pesisir pantai Barat Lampung Selatan yang berhadapan dengan Samudera Hindia, dan hingga kini masih menyisakan sejumlah kerusakan.
Meski demikian, perbaikan sudah dilakukan dengan pembuatan talud secara alami, di antaranya di Desa Kunjir, Way Muli, Banding dan sejumlah desa pesisir kecamatan Rajabasa.
Roby (34), warga desa Way Muli, menyebut potensi kerusakan pesisir pantai oleh gelombang air pasang dan angin kencang terus terjadi di wilayah tersebut. Kerusakan terjadi pada saat peristiwa badai siklon tropis Dahlia sekitar delapan bulan silam, meski sebagian terselamatkan dengan keberadaan tanggul penangkis buatan dan tanaman pesisir. Tanggul penangkis gelombang di wilayah pesisir Rajabasa sepanjang puluhan kilometer, membentang di desa desa pesisir.

Menurutnya, tanggul penangkis selain ikut menyelamatkan perumahan warga dari dampak angin dan gelombang, sekaligus juga menahan abrasi. Pada beberapa wilayah, di antaranya di desa Rajabasa, sebagian pohon tepi pantai mulai roboh akibat tergerus gelombang pantai.
Sebagian warga secara swadaya sengaja menanam jenis pohon kelapa, cemara laut, ketapang, waru laut, keluwih serta sejumlah tanaman lain.
Upaya penanaman pada area terbuka terutama di sepanjang jalan lingkar pesisir, juga dilakukan. Jenis tanaman kelapa dan cemara terlihat mendominasi bagian tanggul serta pohon cery yang ditanam di dekat sejumlah gubuk tepi pantai.
Kencangnya angin dan gelombang, kata Roby, pernah merusak gubuk di sepanjang pesisir Kunjir dan Way Muli dan telah diperbaiki warga. Beberapa pohon yang tumbang pun telah diremajakan dengan tanaman baru.
Selain Roby, warga Way Muli bernama Hendra, mengakui peremajaan pohon di tepi pantai sangat penting. Beberapa jenis tanaman pantai yang sengaja ditanam ikut melindungi pesisir pantai dari abrasi, sekaligus sebagai pagar alami.
Pagar alami tersebut bahkan bisa dipanen, khususnya untuk jenis pohon kelapa serta keluwih. Kesadaran warga pascabencana siklon tropis Dahlia juga dilakukan dengan tidak membuang sampah sembarangan ke laut.
“Saat badai Dahlia menerjang semua sampah yang kerap dibuang ke pantai, baik langsung ke laut maupun melalui sungai berbalik ke daratan terbawa gelombang,” ujar Hendra.
Setelah kejadian tersebut, pesisir pantai Rajabasa secara alami dibersihkan. Kesadaran baru tumbuh untuk menjaga kebersihan pantai melalui penyiapan tempat sampah. Destinasi wisata yang rusak juga mulai diperbaiki, di antaranya pantai Wat Wat Gawoh, pantai Serambi Krakatau, pantai Way Lubuk Kedaton serta sejumlah pantai lain.
Kebersihan pantai dan penataan yang rapi sekaligus menjadi salah satu daya tarik untuk mengunjungi pesisir pantai Rajabasa.
Hendra menyebut, sebagai solusi membersihkan sampah, jenis sampah organik hasil pertanian dimanfaatkan sebagai rumpon. Warga pesisir yang bekerja sebagai nelayan mengumpulkan sampah buangan hasil pertanian sebagai bahan pembuatan rumpon.
Sebagai tempat berkumpulnya ikan, rumpon dari bekas sampah organik yang bisa terurai secara alami ikut membersihkan pantai dari sampah. “Sampah yang sudah membusuk di darat dihimpun di dekat tanaman penahan abrasi, sehingga bisa lebih subur, sebagian dipakai sebagai rumpon,” tegas Hendra.
Keberadaan tanggul penangkis buatan, tanaman penahan abrasi disebut Hendra ikut memberi dampak positif bagi sektor wisata dan usaha nelayan tangkap.
Pada sektor wisata, tanggul penangkis di sepanjang pesisir pantai di kelola sebagai objek wisata untuk memandang laut Selat Sunda. Pantai yang jernih dan landai berkat tanggul penangkis menjadi destinasi favorit bagi anak-anak. Warga juga memanfaatkan tanggul penangkis sebagai lokasi membuka usaha kuliner.
Jenis pohon dengan perakaran yang kuat, di antaranya kelapa, waru, cemara dan rumpun pohon rumbia bahkan masih terjaga di desa Banding. Keberadaan jenis pohon penjaga lingkungan pesisir Rajabasa dari kerusakan tersebut juga ikut menjaga akses jalan lingkar pesisir (ring road).
Saat talud akses jalan perbatasan desa Way Muli dan desa Rajabasa hancur diterjang gelombang, keberadaan tanaman tepi pantai di Banding menahan laju abrasi.
Upaya menjaga berbagai jenis tanaman di wilayah tersebut juga dilakukan kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Pokdarwis menyewakan perahu untuk mengunjungi pantai batu lapis dan pulau Mengkudu. Selain menjaga lingkungan sekitar pantai, Pokdarwis juga selalu memberi imbauan melalui papan pengumuman larangan membuang sampah ke pantai. Upaya tersebut efektif menjaga wilayah pantai pesisir dari kekotoran akibat sampah dan kerusakan abrasi gelombang air dan angin.