Harga Gabah di Bali, Turun
DENPASAR – Harga gabah pada tingkat petani di Bali sebesar Rp4.352,13 per kilogram pada April 2018, menurun Rp103,18 atau 2,32 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat Rp4.455,31/kg.
“Hal yang sama juga terjadi pada gabah kering panen (GKP) tingkat penggilingan, merosot Rp98,32/kg dari Rp4.517,32 pada Maret 2018 menjadi Rp4.419,75/kg pada April 2018,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Adi Nugroho, di Denpasar, Jumat (11/5/2018).
Ia mengatakan, meskipun harga gabah di tingkat petani dan penggilingan tersebut merosot, namun harganya masih jauh lebih tinggi dari harga patokan pemerintah (HPP) yang berlaku untuk tingkat petani sebesar Rp3.700 per kg, dan tingkat penggilingan Rp3.750 per kg.
Harga gabah di tingkat petani dan penggilingan di Bali tersebut merupakan hasil pemantauan harga gabah yang dilakukan di tujuh kabupaten di Bali, meliputi Kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Klungkung, Karangasem dan Buleleng.
Adi Nugroho menambahkan, dari lima subsektor yang membentuk nilai tukar petani (NTP), empat subsektor mengalami penurunan indeks dan hanya subsektor peternakan yang meningkat 1,32 persen dari 113,02 persen pada bulan Maret 2018 menjadi 114,51 persen pada April 2018.
Empat subsektor yang mengalami penurunan indeks terdiri atas tanaman pangan (padi dan palawija) 2,22 persen, hortikultura 0,40 persen, tanaman perkebunan rakyat 0,64 persen dan subsektor perikanan 0,70 persen.
Adi Nugroho menjelaskan, subsektor tanaman pangan yang meliputi padi dan palawija mengalami kemerosotan indeks 2,33 persen dari 99,24 pada bulan Maret 2018 menjadi 96,93 persen pada April 2018 akibat menurunnya indeks harga yang diterima petani sebesar 2,10 persen.
Menurunnya indeks tersebut erat kaitannya dengan merosotnya harga pada kelompok padi dan palawija masing-masing sebesar 2,62 persen dan 0,81 persen.
Sementara, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Bali, Ida Bagus Wisnuardhana, dalam kesempatan terpisah menjelaskan, Bali mempunyai sasaran untuk melakukan penanaman padi seluas 146.501 hektare dalam tahun 2018.
Sasaran tersebut meningkat dari realisasi penanaman padi tahun 2017 yang tercatat 139.871 hektare, sehingga diharapkan mampu meningkatkan produksi padi dan memantapkan ketahanan pangan.
Penamanan padi seluas 146.501 hektare dalam tahun 2018 dengan sasaran mampu memproduksi sebanyak 842.122 ton gabah kering giling atau setara dengan 505.273 ton beras.
Dari sembilan kabupaten/kota di Pulau Dewata, target produksi padi yang terbesar tertumpu di Kabupaten Tabanan yakni 197.539 ton gabah kering giling, yang selama ini terkenal sebagai Lumbung Berasnya Bali.
Sedangkan untuk target produksi padi di delapan kabupaten/kota lainnya yakni Jembrana, (59.079 ton), Badung (112.599 ton), Gianyar (188.243 ton), Klungkung (33.370 ton), Bangli (30.484 ton), Karangasem (69.611 ton), Buleleng (123.949 ton), dan Denpasar (27.246 ton).
“Sasaran produksi gabah tersebut disesuaikan dengan potensi dan kemampuan petani maupun ketersediaan lahan di masing-masing daerah”, ujarnya. (Ant)