CIPS Ingatkan Dampak Depresiasi Rupiah Terhadap UMKM
JAKARTA – Center of Indonesian Policy Studies (CIPS) mengingatkan dampak depresiasi atau melemahnya nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi belakangan ini. Yang harus diwaspadai adalah dampak tidak menguntungkan kepada pelaku usaha di Indonesia, salah satunya UMKM.
Peneliti CIPS Novani Karina Saputri mengatakan, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga memengaruhi UMKM utamanya yang menggunakan bahan baku impor. Melemahnya nilai rupiah, akan mengakibatkan semakin mahalnya bahan baku produksi.
“Kondisi pelemahan rupiah ini dapat berdampak secara langsung maupun tidak langsung terutama terhadap kondisi profit margin. Pelemahan rupiah akan meningkatnya inflasi terutama pada bahan pangan sehingga akan menurunkan daya beli masyarakat. Penurunan daya beli masyarakat dihadapkan dengan biaya produksi yang semakin tinggi untuk produsen berbahan baku impor, logikanya akan menurunkan profit mereka,” jelas Novani, Jumat (4/5/2018).
Untuk itu pemerintah disebutnya, harus mampu mengidentifikasi kendala apa saja yang dihadapi oleh pelaku UMKM. Beberapa hal yang sering menjadi kendala UMKM adalah penguasaan teknologi dan akses pasar serta permodalan.
Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta, Jumat (4/5/2018) sore, bergerak melemah dua poin menjadi Rp13.933 dibandingkan posisi sebelumnya Rp13.931 per dolar AS.
Research Analyst FXTM Lukman Otunuga mengatakan, fluktuasi nilai tukar rupiah relatif terjaga terhadap dolar AS. Kondisi tersebut seiring dengan indeks keyakinan konsumen Indonesia yang membaik. Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan optimisme konsumen yang menguat pada April 2018 dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2018 yang meningkat 0,6 poin dari bulan sebelumnya menjadi 122,2. Bank Indonesia menyebutkan tingkat volatilitas pergerakkan rupiah sebesar 5,7 persen (year to date) hingga 4 Mei 2018 masih rendah dan belum memasuki kondisi yang memprihatinkan.
Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah mengatakan, nilai rupiah memang tertekan dalam beberapa pekan terakhir. Hal itu dikarenakan keperkasaan dolar AS menyusul dinamika ekonomi di Negara Paman Sam. Namun jika dilihat secara proposional, kondisinya masih dalam rentang depresiasi yang wajar.
Untuk tahun kalender berjalan sejak 1 Januari 2018 hingga 5 Mei 2018, volatilitas rupiah bergerak di 5,7 persen, atau lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain yang mencapai 11 persen.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan Bank Indonesia (BI) harus berinisiatif menangani pelemahan atau depresiasi nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS. “Kalau kurs, apalagi kalau penyebabnya dari luar, yang harus maju lebih dulu itu Bank Indonesia, bukan pemerintah,” kata Darmin di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat (4/5/2018).
Mantan Gubernur BI tersebut mengatakan bahwa bank sentral sudah menyuarakan mengenai keperluan menaikkan tingkat bunga. Keputusan tersebut tinggal menunggu rapat bulanan BI. (Ant)