Sulut Perlu Tingkatkan Ekspor Berbasis Industri Lokal

Sawit - Dok: CDN

MANADO  – Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulut Soekowardojo mengatakan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) perlu meningkatkan industri ekspor berbasis sumber daya lokal sejalan pemerintah pusat dalam mengembangkan industri manufaktur, khususnya berbasis ekspor.

“Produktivitas dapat bertambah, pertumbuhan ekonomi dapat terakselerasi, dan Indonesia dapat masuk dalam rantai pasok global, bila ini dikembangkan,” kata Soekowardojo di Manado, Sabtu.

Indonesia, katanya harus masuk ke dalam tataran industri manufaktur yang tumbuh kembali pesat, tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, namun berorientasi ekspor dan menyediakan lapangan kerja.

Sehingga, katanya, strategi yang harus dilakukan industri di sulut yakni berbasis sumber daya lokal, misalnya pertanian dan perikanan  yang saat ini menjadi kekuatan. Dan, katanya, pengembangkan industri hilir yang memberikan nilai tambah lebih.

Pastikan infrastruktur pendukung, katanya, juga memadai seperti listrik, akses jalan ke pelabuhan, dan pelabuhan ekspornya sendiri harus saling mendukung.

Apalagi saat ini, katanya, ada pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung selain masalah percepatan pembebasan lahan juga ketersediaan dan akses bahan baku menuju lokasi menjadi pertimbangan investor.

“Kalau KEK Bitung sudah berjalan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi meskipun dampak pada masyarakat lokal masih harus kita lihat lebih lanjut,” jelasnya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut Moh Edy Mahmud mengatakan, nilai ekspor nonmigas Sulawesi Utara (Sulut) pada bulan Maret mengalami peningkatan akibat permintaan pasar luar negeri cukup tinggi akan sejumlah komoditi pangan daerah tersebut.

“Ekspor Sulut pada Maret 2018 naik sebesar 24,68 persen jadi 94,15 juta dolar Amerika Serikat (AS) jika dibandingkan Februari 2018 yang senilai 75,52 juta dolar AS (m-to-m),” katanya.

Dia mengatakan bila dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2017 (y-on-y) naik 20,86 persen.

“Peningkatan ini antara lain disebabkan oleh naiknya nilai ekspor lemak dan minyak hewani/nabati, yang mendominasi nilai ekspor Non Migas di Sulut,” katanya. (Ant)

Lihat juga...