LAMPUNG — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi jenis pertalite dari semula Rp7.800 menjadi Rp8.000 per liter di Lampung sejak Maret berdampak dengan beralihnya konsumen ke BBM premium.
Sejumlah pemilik kendaraan roda dua dan roda empat kembali memburu premium dengan harga yang lebih murah Rp6.450, sehingga rela mengantre.
Hendra (40) salah satu warga Kedaton Kalianda mengatakan, membeli premium yang memiliki selisih harga lebih murah dibandingkan pertalite. Dia ikut dalam antrean di SPBU Sebayak, Kalianda, Lampung Selatan, yang masih menyediakan premium, pertamax 92, solar, pertalite. Antrean yang mengular hingga ke Jalan Lintas Sumatera.
“Kebetulan saya sedang arah ke Palas dari Kalianda, beberapa SPBU yang saya lalui sudah memasang tulisan premium habis. Sementara saya hendak membeli gas di perempatan Palas,” papar Hendra kepada Cendana News, Jumat sore (20/4/2018).
Selisih sebesar Rp1.500 per liter membuat Hendra bisa membeli satu liter premium dibanding membeli pertalite. Faktor kedua antrean di SPBU tersebut karena bertepatan dengan jam pulang beberapa pekerja sekaligus akhir pekan. Antrean kerap terjadi saat pagi dan sore hari untuk membeli bahan bakar minyak di SPBU Sebayak.
Salah satu operator dispenser Premium di SPBU Sebayak yang enggan ditulis namanya mengaku pembelian premium meningkat pasca pertalite naik. Selisih yang cukup banyak pada bahan bakar non subsidi tersebut membuat warga kembali beralih ke bahan bakar subsidi jenis premium. Meski antrean cukup banyak stok tetap terpenuhi dengan dispenser bahan bakar yang tersedia.
Kebutuhan akan bahan bakar premium juga terlihat meningkat di SPBU Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan, yang berada tepat di Jalan lintas Sumatera. Pantauan Cendana News SPBU tersebut masih menjual bahan bakar premium dengan harga Rp6.450, bahan bakar solar Rp5.150, bahan bakar pertamax Rp9.000, pertalite Rp8000 dan dexlite Rp8.250 per liternya.
Husin, salah satu operator dispenser premium di SPBU Sukabaru atau dikenal Simpang Raya tersebut mengaku menyediakan stok hingga 8 kiloliter untuk premium, 16 kiloliter untuk pertalite dan sisanya untuk bahan bakar solar, pertamax.
Kekosongan yang biasanya terjadi akan diantisipasi dengan melalukan komunikasi dengan distributor di depo Pertamina Panjang. Stok yang cukup membuat SPBU tersebut jarang terjadi antrean saat siang dan justru antrian terjadi saat sore.
“Jika SPBU di Kalianda kan berada di dekat kota terutama akhir pekan banyak yang membutuhkan BBM,tapi di SPBU kami ramai oleh pengecer yang sudah terdaftar untuk dijual kembali,” kata Husin.
Di tempat terpisah, supervisor sebuah SPBU di Bakauheni, Nugroho mengatakan, memang pada sejumlah SPBU yang masih menjual premium kerap terjadi antrean. Namun ia memastikan di SPBU yang menjadi tanggungjawabnya, harga pertalite tidak mempengaruhi pembelian. Sejumlah tukang ojek, travel dan kendaraan lain masih membeli BBM jenis pertalite di SPBU tersebut.
“Kami sudah tidak menjual premium sehingga hanya melayani solar dan pertalite dengan pangsa pasar kendaraan roda dua, pribadi dan truk,” ujar Nugroho.
Antrian disebutnya, kerap terjadi pada akhir pekan dengan peningkatan volume kendaraan yang akan menyeberang ke Pulau Jawa menggunakan kapal laut. Truk kendaraan ekspedisi yang kerap melintas dengan bahan bakar solar disebutnya akan semakin meningkat menjelang bulan Ramadan.
Peningkatan arus barang disebutnya kerap membuat antrean truk terjadi di SPBU yang juga dekat dengan gerbang Jalan Tol Trans Sumatera tersebut.
Muksin, salah satu konsumen bahan bakar jenis solar untuk perahu menyebut kerap harus mengantri saat membeli di SPBU Yogaloka. Antreankerap terjadi saat stok bahan bakar solar di stasiun pengisian bahan bakar nelayan Muara Piluk kosong.
Selain membeli solar untuk bahan bakar perahu tangkap ikan miliknya, bahan bakar premium juga digunakan untuk kendaraan roda dua untuk mengangkut ikan.