Film ‘Teman Tapi Menikah’, Kisah Pertemanan Berbuah Perkawinan
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Jatuh cinta pada sahabat sendiri dan memendam rasa cinta selama bertahun-tahun, banyak dialami orang. Dan, banyak orang mengatakan, jika jodoh tidak akan lari, dan bisa jadi jodoh itu dari orang terdekat.
Cinta memang bisa tumbuh dari pertemanan. Entah karena dikenalkan teman, atau bisa juga teman sekolah. Demikian yang mengemuka dari film ‘Teman Tapi Menikah’.
Kisahnya tentang Ditto (Adipati Dolken) yang menyimpan rasa pada Ayu (Vanesha Prescilla) sampai 12 tahun lamanya. Mengenal Ayu sejak masih SD lewat aktingnya di TV, Ditto akhirnya bertemu sang gadis pujaan itu di sekolah. Dari SMP hingga SMA, mereka sekelas dan banyak menghabiskan waktu bersama.
Saling meledek, pacaran dengan kakak kelas, atau punya seorang secret admirer adalah gambaran dari cerita masa sekolah mereka berdua. Bahkan, ketika keduanya dipisahkan oleh kesibukan masing-masing, karena Ayu yang sibuk syuting dan Ditto yang nge-band. Tetap saja Ditto dan Ayu saling berbagi cerita dan keseruan, hingga mendukung pada hal-hal positif di masa depan.
Kebersamaan yang terus terjadi selama masa sekolah ini kemudian membuat Ditto sadar, bahwa dirinya tidak bisa selalu bersama Ayu. Ketika masa remaja sudah usai, Ditto dan Ayu pun kemudian berpisah. Rencana baru pun dimulai menata kehidupan mereka masing-masing.
Sayangnya, kehidupan Ditto dan Ayu kemudian menjadi berantakan. Hal ini terjadi karena Ditto dan Ayu tidak pernah berterus terang tentang diri mereka masing-masing.
Selama 12 tahun bersahabat, Ditto selalu gagal keluar dari friendzone. Apa pun usahanya, di mata Ayu Ditto adalah teman makan dan teman curhat semata. Untungnya, kehidupan cinta Ayu yang berliku, memastikan Ditto selalu di dekatnya sebagai tempat curhat.
Suatu hari, Ayu bercerita, bahwa ia akan menikah dengan pacarnya, seorang pria sempurna luar dan dalam. Ditto harus memilih, menyatakan perasaan atau merelakan cinta pertamanya menjadi sahabat seumur hidup.
Apa cinta itu kalau tidak diungkapkan?
Ditto akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa cintanya pada Ayu, di saat sahabatnya itu sudah dilamar oleh lelaki lain. Tapi, hati tidak bisa bohong dan tak bisa juga dipungkiri, mereka pun bersatu dalam ikatan tali pernikahan.
Digarap oleh sutradara peraih Piala Citra, Rako Prijanto, film ini menyuguhkan sebuah tontonan menarik yang kekinian. Adaptasi novel berjudul sama karya Ayudia Bing Slamet dan suaminya Muhammad Pradana Budiarto atau yang biasa dipanggil Ditto, diangkat dengan cukup baik. Untuk skenario filmnya, Rako menggandeng penulis skenario Johanna Wattimena dan Upi yang sudah sering menggarap berbagai film.
Akting Adipati Dolken cukup baik dan tampak dalam film ini lebih menikmati peran yang dilakoninya. Karakter Ditto yang tengil, jahil, dan kocak dibawakan dengan cukup baik. Adipati mestinya bisa lebih dari itu, karena akting memang untuk mendekatkan kenyataan yang sebenarnya.
Akting Vanesha Prescilla, pendatang baru yang sedang naik daun, cukup baik dan kian matang. Hanya berjarak dua bulan dari ‘Dilan 1990’, sosok Milea yang ikonik ini harus tampil lagi sebagai Ayu. Vanesha cukup berhasil membawakan sosok Ayu dengan gaya tengil dan tomboy-nya yang natural.
Chemistry antara Adipati dengan Vanesha terjalin dengan cukup baik dari fase sebagai seorang teman, hingga kemudian menjadi sepasang kekasih, sampai pada pernikahannya. Adipati dan Vanesha memang serasi.
Ada pun, para pemeran pendukung, seperti Beby Tsabina, Refal Hady, Denira Wiraguna, dan Rendy Jhon Pratama tampak turut menggenapi keutuhan cerita. Mereka mampu hadir sebagai pemicu konflik di antara Ditto dan Ayu.
Dari judulnya, film ini memang sudah tertebak, bahwa Ditto dan Ayu pada akhirnya menikah. Tantangannya lebih pada bagaimana mengisahkan perjalanan panjang mereka hingga berlabuh pada keputusan ini. Dalam hal ini penekanan prosesnya, bukan hasilnya.
Tapi, bagi kita yang mengharapkan konflik lebih dalam, film ini memilih sajian ringan. Padahal, kita begitu gemasnya menahan perasaan cinta pada sahabat kita sendiri, dan perlu 12 tahun hingga sampai keberanian itu menemukan puncaknya dengan pernikahan.
Banyak pesan moral yang tersirat dari film ini. Seperti bagaimana anak muda yang begitu gigih dalam mewujudkan keinginannya, semangat yang kita dapat dan terlebih lagi, mengenai memotivasi diri sendiri, dan tentu saja soal keberanian menyatakan cinta yang berbuah manis sampai menikah.