Film ‘Bluebell’, Memahami Keiklasan dalam Cinta

Editor: Koko Triarko

Adegan film Blubell –Foto: Dok PH Ratson Pictures dan Triple A Films/ Akhmad Sekhu

JAKARTA – Banyak orang percaya, cinta pada pandangan pertama. Begitu juga Mario (yang diperankan Qausar Harta Yudana) yang langsung jatuh cinta pada Bluebell (Regina Rengganis) pada pandangan pertama. Padahal, tinggal beberapa hari Mario akan melangsungkan pernikahan dengan tunangannya, Vallesia (Steffi Zamora).

Karena saking cintanya pada Bluebell, meski bisa dibilang cinta kilat, Mario langsung serta-merta menggagalkan pernikahannya yang berakibat sangat fatal. tidak hanya memutuskan hubungan dengan Vallesia, tapi juga rIsiko-rIsiko lainnya yang tak terelakkan. Demikian yang mengemuka dari film ‘Bluebell’.

Ayah Mario (Rou Marten) tentu saja marah besar, karena tak habis pikir dengan keputusan  yang dilakukan Mario, anaknya semata wayang. Tak hanya itu, sang ayah begitu sangat malu terhadap keluarga Vallesia yang hubungannya sudah dibina puluhan tahun lamanya. Sang ayah sampai frustasi memikirkannya.

Begitu mendengar keputusan Mario menggagalkan pernikahannya yang sangat tiba-tiba itu, ibu Mario (Ike Muti) langsung pingsan. Tampaknya sang ibu begitu sangat terpukul dan tak bisa menerima kenyataan yang di luar nalar pikirannya. Setelah sadar, sang ibu mencoba untuk berpikir jernih dalam menyelesaikan masalah itu.

Sedangkan, kedua sahabat Mario, yang datang jauh-jauh dari Jakarta ke Bali, sengaja untuk menyaksikan pernikahan Mario dengan Vallesia tampak angkat tangan. Kedua sahabatnya itu tak mau ikut campur lebih jauh mengenai keputusan Mario menggagalkan pernikahannya yang bagi mereka adalah keputusan gila.

Ada pun, kakak Vallesia begitu sangat marah dan melampiaskan kemarahannya dengan langsung menghajar Mario tanpa ampun. Mario tampak diam saja dan tak memberi perlawanan apa-apa, meski berdarah-darah karena merasa diri bersalah. Kedua sahabatnya tampak tak terima dan langsung menyelamatkan Mario dari kakak Vallesia yang kalap.

Bluebell, surfer girl dan penyanyi, yang sebenarnya tak begitu cantik, tapi unik. Karakternya khas yang membuat Mario begitu sangat tertarik, betapa Mario begitu sangat terpikat dengan pesona gadis yang berdomisili di Bali itu. Mario sampai tak tahu bagaimana dirinya begitu sangat cinta pada Bluebell pada pandangan pertama, seperti ada misteri cinta yang begitu sulit ditemukan bentuknya.

Bluebell juga merasakan getaran cinta dari Mario, lelaki yang belum pernah ia temui sebelumnya, dan menyatakan cinta pada pandangan pertamanya. Keputusan Mario menggagalkan pernikahannya, menjadi situasi yang sangat tidak mengenakkan bagi Bluebell, meskipun Mario sangat mencintainya.

Bagi Bluebell, cinta bukan sesuatu yang harus ia temukan. ia meyakini, bahwa cinta yang akan menemukan dirinya. Semakin jauh direnungkan, terasa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar kata cinta: keikhlasan!

Mario dan Bluebell menikmati kebersamaan yang penuh petualangan. Segalanya seakan sempurna, sampai Mario tersadar akan kenyataan yang menohok perasaannya.

Film ini sederhana, tapi begitu mengena dalam mengambarkan bagaimana seorang pemuda yang jatuh cinta pada pandangan pertama.

Sutradara Muhammad Yusuf yang sekaligus menjadi penulis skenarionya, begitu piawai mengemas permasalahan cinta yang pelik dengan begitu baik. Tak hanya itu, Yusuf juga mahir memainkan twist-twist yang mengejutkan.

Yusuf cukup jeli mengangkat cerita gadis peselancar yang tentu menjadi daya tarik tersendiri, karena belum banyak diangkat para sineas Indonesia. Ada pun alur cerita yang maju-mundur, juga kilas balik saat tokoh tertentu menceritakan atau mengingat sesuatu terkadang porsinya terlalu berlebihan, sehingga agak membosankan. Meski demikian, tak mengurangi daya pikat film ini.

Akting Regina Rengganis cukup baik dalam memerankan karakter Bluebell sebagai tokoh utama. Totalitasnya patut diapresiasi, karena demi peran yang baginya sangat menantang ini, Regina khusus belajar bermusik dan berselancar karena dirinya bukan seorang musisi atau pun peselancar.

Sedangkan akting Qausar Harta Yudana berperan sebagai Mario cukup baik mengimbangi. Meski kadang tenggelam dengan akting Regina yang memang lebih banyak jam terbangnya.

Qausar tampak berusaha begitu sangat keras untuk lebur dalam kegelisahan karakter Mario yang memang tak gampang dihayatinya. Ada pun para pemeran pendukung, seperti aktor-aktris senior seperti Roy Marten, Ike Muti, maupun aktor-aktris mudanya seperti Gibran Marten, Rafael Tan, Steffi Zamora semakin memperkuat film ini. Terlebih lagi, Ncess Nabati berperan sebagai Indra yang maunya dipanggil Iin, ini tampak tampil kocak memberi warna, bahkan menyegarkan film ini.

Menonton film ini, indra penglihatan kita seperti dimanjakan dengan pemandangan Bali yang indah nan menawan hati. Ada pun cerita cintanya melenakan kita, bahwa begitulah orang yang sedang kasmaran mabuk cinta pada panadangan pertama. Berbagai penyelesaian masalah yang terjadi dalam film ini menjadi referensi kita, agar bijak menghadapi cinta.

Lihat juga...