Pemimpin Kamboja Cemooh Rival Politiknya
PHNOMPENH – Perdana Menteri Kamboja Hun Sen mencemooh rival politiknya dengan menyebut pesaingnya dengan gila dan bodoh. Pernyataan tersebut menjadi respon atas petisi dari sang rival di pemilu untuk mencoba membuat Facebook menyiarkan rincian Hun Sen menggunakan media sosial.
Mantan tim hukum pemimpin oposisi Sam Rainsy mengajukan tuntutan hukum di Kalifornia, Amerika Serikat pekan lalu. Dalam tuntutannya, Hun Sen disebut menggunakan media sosial untuk melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan menipu pemilih.
Di antara beberapa tuduhan yang dialamatkan ke Hun Sen adalah membayar untuk ikon suka “palsu” di Facebook. Hal itu demi menyesatkan warga pemilih untuk mau mendukung Hun Sen. “Orang ini gila dan bodoh,” kata Hun Sen kepada ribuan lulusan universitas di ibu kota Phnom Penh, Selasa (13/2/2018).
Hun Sen menyebut, Rainsy hanya cemburu karena laman Facebook resminya memiliki 9,4 juta suka. Sementara rivalnya tersebut hanya memiliki 4,5 juta penyuka halaman akun pribadi media sosialnya. Hun Sen mengatakan bahwa dia tidak mengetahui siapa yang menyukai halaman akun media sosialnya sendiri.
Perkara tersebut telah menarik perhatian pada peran sentral Facebook dalam diskusi politik di Kamboja. Pemerintah telah membubarkan partai oposisi utama, menahan pemimpinnya serta menindak keras kelompok media dan kelompok hak-hak sipil selama setahun terakhir.
Seorang pria berusia 29 tahun diperintahkan untuk mengikuti penahanan pra-peradilan atas komentar yang dikirimnya di Facebook. Disebut-sebut penahanan dilakukan karena menyebut pemerintah otoriter dalam sebuah komentar di akunt media sosial. Pria tersebut ditangkap minggu lalu di hari pernikahannya.
Petisi Sam Rainsy terhadap Facebook mengatakan bahwa platform tersebut telah digunakan oleh pemerintah untuk membuat ancaman pembunuhan. Bahkan muncul tuduhan bahwa uang negara telah digunakan untuk iklan pada Facebook hingga pendukung Hun Sen telah membangun kehadirannya yang kuat.
Departemen hubungan masyarakat Facebook belum menanggapi permintaan untuk mengomentari kasus tersebut. Sam Rainsy tinggal di Prancis, tempat dia melarikan diri pada 2015 setelah dijatuhi hukuman karena penghinaan, yang dia katakan bermotif politik. Dia belum menanggapi pernyataan Hun Sen tersebut. (Ant)