Kemendikbud Kaji Pemasangan Chattra di Stupa Borobudur
YOGYAKARTA – Balai Konservasi Borobudur Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko melakukan kajian keberadaan chattra. Kajian dilakukan untuk mendapatkan rekomendasi penyikapan mengenai rencana pemasangan struktur chattra.
Kepala Balai Konservasi Borobudur Tri Hartono mengemukakan, kajian ilmiah dilakukan mempertimbangkan adanya desakan dari umat Buddha baik di Indonesia maupun dunia untuk memasang chattra di stupa induk Candi Borobudur. “Ada keyakinan dari umat Buddha bahwa jika ‘chattra’ tidak dipasang maka doa yang dipanjatkan tidak ‘mustajab’ (terkabul),” kata Tri di sela Fokus Group Discusion FGD yang dihadiri para arkeolog di Yogyakarta, Jumat (2/2/2018).
Kendati banyak desakan, kajian ilmiah yang dilakukan dengan penuh kahati-hatian tetap perlu dilakukan sebelum memutuskan pemasangan chattra. Pasalnya Candi Borobudur merupakan bangunan cagar budaya yang dilindungi Undang-undang (UU) NO.11/2010.
Di dalam aturan tersebut disebutkan, bahwa pelestarian cagar budaya dilakukan berdasarkan hasil studi kelayakan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, teknis, dan administratif. “Kalau hasil kajian menyatakan tidak bisa dipasang lalu kita memaksakan memasang dan justru menjadikan kerusakan stupa candi, otomatis ancaman pidana sudah ada,” kata dia.
Chattra diklaim sejumlah pihak sebagai bagian dari struktur inti dari stupa induk Candi Borobudur. Struktur chattra pernah dicoba untuk direka ulang pada waktu pemugaran Candi Borobudur oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1907-1911.
Pada waktu itu, Theodoor van Erp, seorang insinyur Belanda yang ditugaskan memimpin proyek pemugaran, melakukan rekonstrusi. Berdasarkan analisisnya terhadap blok-blok batu yang masih dapat ditemukan dan kemungkinan merupakan bagian dari stuktur penyusun chattra.
Akan tetapi, setelah direkonstuksi dan dipasang di atas stupa induk candi, struktur itu segera diturunkan kembali karena masih menjadi perdebatan. Perdebatan yang terjadi mempertanyakan apakah benar Candi Borobudur aslinya memiliki stuktur chattra, dan apabila asumsi itu benar, bentuk asli chattra seperti apa.
Menurut Tri, chattra hasil rekonstruksi van Erp saat ini masih disimpan di Museum Borobudur, yang terletak di dalam kompleks taman wisata Candi Borobudur. Chattra hasil rekonstruksi van Erp berbentuk payung yang terdiri atas 15 lapis batu. Dari lapisan tersebut, tujuh di antaranya merupakan batuan lama dan tujuh lainnya merupakan tambalan batu baru. “Tujuh batu lainnya (batuan lama) sampai sekarang belum ditemukan,” kata dia.
Kajian direncanakan akan dilakukan selama Februari hingga Maret 2018. Jika hasil kajian menguatkan pemasangan chattra, maka ditargetkan peresmian pemasangan chattra pada stupa induk Candi Borobudur dilakukan pada Mei 2018.
Sementara itu, Arkeolog Universitas Indonesia (UI) Prof. Mundarjito yang hadir dalam FGD mengaku masih meragukan keberadaan chattra. Keragu-raguan tersebut didukung belum adanya data otentik yang menyebutkan chattra merupakan struktur inti dari stupa induk Candi Borobudur hingga kini.
Mundarjito juga berpandangan bahwa pemasangan chattra bukan suatu hal yang mendesak. “Saya sendiri merasa tidak yakin. Kalau tidak tahu persis mendingan jangan,” kata salah satu arkeolog yang pernah terlibat dalam pemugaran Candi Borobudur tersebut.
Meski demikian, pemasangan chattra disebutnya, harus diputuskan dengan penuh kehati-hatian berdasarkan intepretasi ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. “Karena semua memang intepretasi tidak ada yang pasti,” pungkasnya. (Ant)