Cuaca Ekstrim, Nelayan Kupang Masih Kesulitan Melaut
KUPANG — Para nelayan yang bermangkal di Pelabuhan Tenau Kupang, Nusa Tenggara Timur masih kesulitan melaut akibat kondisi cuaca ekstrim yang melanda wilayah perairan setempat.
“Kondisi cuaca di perairan terutama selatan Pulau Timor masih ekstrim, gelombang tinggi dan angin kencang sehingga kapal-kapal cakalang masih berlindung di Pulau Semau,” kata M Nasir, seorang nelayan yang juga nahkoda kapal cakalang yang bermangkal di TPI Tenau Kupang, Sabtu.
Ia mengatakan, jumlah kapal nelayan kapal cakalang yang berbasis di Kota Kupang sekitar lebih dari 20 kapal masih sulit melaut akibat cuaca buruk.
Kapal-kapal cakalang, lanjutnya, sulit mendapat pasokan umpan dari kapal-kapal bagan yang kebanyakan masih terparkir karena khawatir terhadap kondisi angin kencang.
“Ini sudah menjadi kendala yang dihadapi kami nelayan setiap tahun, cuaca buruk membuat pasokan umpan melemah,” katanya.
Kepala Bidang Humas Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Kupang Abdul Wahab Sidin, secara terpisah mengatakan kondisi cuaca buruk atau dikenal dengan musim barat itu sudah berlangsung sejak November 2017 dan biasanya diperkirakan hingga Maret 2018 seperti yang berlangsung setiap tahun.
Selama musim barat, katanya, para nelayan terpaksa harus mencari pekerjaan lainnya yang bersifat serabutan untuk bertahan hidup.
“Ada yang beralih profesi menjadi sopir, kondektur, buruh, tukang bangunan dan lainnya, untuk bisa bertahan selama berbulan-bulan saat musim paceklik ini,” kata Wahab Sidin yang juga nelayan yang bermagkal di TPI Tenau.
Ia mengatakan, para nelayan terus memantau kondisi cuaca di perairan sesuai informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelum kembali melaut.
BMKG Kupang menyatakan cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang masih melanda wilayah NTT hingga Maret 2018.
“Potensi hujan lebat masih terjadi di wilayah NTT. Kondisi hujan seperti ini melanda seluruh daerah ini karena puncak musim hujan berlangsung pada akhir Maret 2018,” kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi, Stasiun Klimatologi BMKG Kupang, Fera Adrianita.
Menurutnya, potensi hujan lebat disertai angin kencang dan petir akan melanda daerah ini.
“Puncak musim hujan di NTT akan berlangsung hingga bulan April 2018, karena saat ini satuan suhu muka laut yang hangat sehingga menimbulkan penguapan yang tinggi menyebabkan terjadinya hujan lebat di NTT,” katanya.[ant]