Angin Kencang Rusak Lahan Pertanian dan Bangunan Warga di Lamsel

LAMPUNG — Angin kencang yang melanda wilayah Kabupaten Lampung Selatan pada Jumat (20/1) sore hingga malam berimbas pada kerusakan lahan pertanian dan bangunan perumahan di wilayah Kecamatan Penengahan dan Bakauheni.

Salah satunya dialami Putu Sukmawati (30) warga Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni yang mengalami kerusakan pada bagian atap rangka baja bangunan miliknya.

Atap rangka baja yang berada di lantai tiga terhempas akibat angin kencang dan menimpa halaman depan pasar waralaba yang ada di pinggir Jalan Lintas Sumatera KM 3 tersebut.

Beruntung akibat kejadian tersebut tidak ada korban jiwa serta kerugian material. Para pekerja bahkan terlihat masih melakukan proses pembersihan rangka baja yang menghalangi akses masuk.

“Sedang dilakukan proses pembersihan area yang tertimpa atap dan rangka baja karena proses pembuatan bangunan sedang dikerjakan dan kerugian material belum bisa dipastikan,” terang Agung salah satu keluarga Putu Sukmawati dalam keterangannya kepada Cendana News, Sabtu (20/1/2018).

Selain di Bakauheni dampak angin puting beliung juga merusak bangunan yang tengah dikerjakan sehingga material bangunan menimpa bangunan salah satu toko waralaba di Jalan Kolonel Makmun Rasyid Kelurahan Way Urang Kalianda Lampung Selatan.

Meski tidak menyebabkan korban jiwa dan kerusakan pada toko, namun kejadian tersebut membuat kegiatan di toko terhenti sementara.

Pohon akasia di Desa Pasuruan roboh menimpa lahan pertanian sawah [Foto:Henk Widi]
Kerusakan dampak angin kencang juga menimpa beberapa petak lahan pertanian sawah di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan yang mengakibatkan tanaman padi berusia satu bulan tertimpa pohon akasia yang tumbang.

Kitrek (30) pemilik kebun mengaku kejadian pada malam hari tersebut mengakibatkan tanaman padi rusak dan akses jalan ke sekolah tertutup pohon.

“Warga yang biasanya melintas saat akan ke sekolah dan pasar menggunakan kendaraan harus berjalan memutar karena ada pohon melintang di jalan tumbang ke areal persawahan,” beber Kitrek.

Akibatnya, ia terpaksa mencari bibit pengganti untuk menyulam tanaman padi tersebut. Beruntung tanaman masih berusia muda sehingga masih bisa diganti dengan bibit baru yang berasal dari persemaian milik petani lain.

Angin kencang yang masih berpotensi terjadi di wilayah tersebut membuat Kitrek terpaksa melakukan pemangkasan sejumlah pohon yang berada di sekitar rumah sebagai antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang.

Lihat juga...