Warga Ledok Tukangan, Kompak Gunakan Elpiji Non Subsidi

YOGYAKARTA — Sebanyak 70 persen dari 55 Kepala Keluarga RT 10 Kampung Ledok Tukangan, Kelurahan Tenggal Panggung, Kecamatan Danurjan, Yogyakarta telah beralih ke elpiji non subsidi Bright Gas meski sebagian warga termasuk dalam keluarga kurang mampu.

Alasan sebagian besar warga beralih ke bright gas ukuran 5,5 Kilogram (Kg) karena dirasa lebih hemat dan aman dalam penggunaannya.

Deky seorang pemuda yang menggagas kampung Bright Gas di Ledok Tukangan mengatakan, munculnya ide membuat kampung karena adanya pangkalan elpiji di wilayahnya.

“Kita awali dengan berpikir yang lebih maju ke depannya dari pangkalan elpiji hingga berubah menjadi koperasi. Dari koperasi itu kita buat kampung Bright Gas,” terang Deky mengawali kisahnya.

Selanjutnya, Ia mulai menggerakan warga lainnya untuk beralih dari elpiji 3 kg yang ke Bright Gas 5,5 kg.

“Mulanya yang ditukar 50 tabung dan terus meningkat hingga 156 tabung pada Oktober kemarin. Harganya Rp67 ribu, itu belum naik,” sebutnya.

Deky mengaku tak mudah membentuk kampung Bright Gas di Ledok Tukangan. Karena awalnya sempat berembus kabar adanya pergantian harga elpiji sehingga warga resah.

“Kami pengurus diberi Bright Gas gratis dan saya pakai untuk jualan di kantin sekolah. Ternyata pakai ‘pinky’ (5,5 kg) ini jauh lebih hemat ketimbang pakai melon. Kalau pakai pinky 9 hari baru ganti, kalau melon dua hari sudah isi lagi,” ucapnya.

Salah seorang ibu rumah tangga yang menggunakan elpinji pinky/Foto: Ferry Cahyanti

Menurutnya, dari pengalaman itu kemudian diceritakan ke warga lainnya. Perlahan warga lain mencoba menggunakannya, apalagi kini pembelian elpiji bersubsidi harus menggunakan kartu sebagai warga tak mampu.

“Sejak saat Itu, sekarang tinggal 30 persen yang gunakan elpiji subsidi. Karena kondisinya masih ada yang tidak mampu,” imbuhnya.

Dengan kesadaran warga menggunakan elpiji non subsidi, Pertamina terus mendampingi RT 10 Ledok Tukangan sebagai kampung Bright Gas. Termasuk membantu pengurusan izin hingga ke pemerintah daerah.

“Kampung ini menjadi pilot project Pertamina sebelum diterapkan di daerah lain,” kata Sales Executive LPG Rayon VI Yogyakarta, Dorojatun Sumantri.

Terobosan yang dilakukan kampung Bright Gas kini beberapa utusan pemerintah dari daerah lain telah melakukan studi ke kampung ini.

“Rencana kami (Pertamina) tahun depan akan menerapkan di Sulawesi, Ambon dan Papua,” ujarnya.

Saat ini dari pantauan, kampung Ledok Tukangan bernuansa serba pink hingga rumah warga berubah menjadi kampung bright gas.

“Banyak juga pengunjung yang datang, turis asing juga ada mengabadikan foto mereka di lukisan mural. Harapannya kampung ini unik dan mendunia,” pungkasnya.

Lihat juga...