KAIRO – Perdana Menteri Lebanon yang sudah mengundurkan diri Saad al-Hariri, tiba di Kairo untuk melakukan pembicaraan dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, Selasa (21/11/2017).
Sebelumnya, Hariri yang secara mengejutkan mundur dari jabatannya pada 4 November, berada di Paris bertemu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Di Paris Hariri mengatakan bahwa ia akan kembali ke Lebanon pada Rabu untuk menghadiri perayaan Hari Kemerdekaan negara itu. (baca : https://www.cendananews.com/2017/11/hariri-akan-jelaskan-posisinya-setelah-sampai-di-lebanon.html)
Hariri mengumumkan pengunduran dirinya secara tiba-tiba ketika ia sedang berada di Riyadh. Langkahnya itu telah memicu krisis politik di Lebanon di tengah persaingan kekuasaan di kawasan antara Arab Saudi dan Iran.
Sekutu Iran, Hisbullah, memegang kekuasaan utama dalam politk Lebanon. Hisbullah telah sekian lama merupakan musuh Hariri namun tetap menjadi bagian pemerintahan koalisi yang dibentuk Hariri tahun lalu.
Dalam pernyataan pengunduran dirinya, Hariri mengecam Iran maupun Hisbullah. Sejumlah pejabat tinggi serta politisi Lebanon, yang berhubungan dekat dengan Hariri, mengatakan bahwa Arab Saudi memaksa Hariri untuk mundur, mendikte pernyataan dan menempatkan perdana menteri Lebanon itu dalam tahanan rumah.
Baik Riyadh maupun Hariri telah membantah tuduhan tersebut. Hariri merupakan sekutu politik Riyadh dan memegang kewarganegaraan Saudi. Ia menyebut kekhawatiran akan dibunuh serta bahwa Hisbullah sedang menabur pertikaian di dunia Arab sebagai alasan dirinya mundur. (baca : https://www.cendananews.com/2017/11/nyawa-terancam-perdana-menteri-lebanon-mundur-dari-jabatan.html)
Presiden Lebanon Michel Aoun telah menyatakan ia tidak akan menerima permohonan pengunduran diri Hariri sampai sang perdana menteri kembali ke Beirut untuk menyampaikan permohonan itu secara resmi.
Sejumlah pengulas mengatakan ketika Hariri menyampaikan pengunduran diri secara langsung, para panggota parlemen akan mencalonkannya untuk kembali menjabat sebagai perdana menteri dan Aoun akan memintanya untuk membentuk pemerintahan baru.
Keadaan itu membuka kemungkinan bahwa pembicaraan politik akan berlangsung dalam waktu lama seperti yang pernah terjadi hingga terwujudnya pembentukan pemerintah kesatuan nasional, yang membuat Hariri tahun lalu mendapatkan jabatan sebagai perdana menteri. (Ant)